REFLEKSI | Taubat Hamba Kegembiraan Tuhan
Hati ibarat Raja, ia penguasa diri kita, jika kita bersandar pada hati sebagai kompas atau petunjuk jalan. Hati adalah Raja bagi seluruh anggota badan kita. Bila pandangan sang Raja, benar maka terang semua perbuatan kita, bila hati sudah kelam, maka tak mampu lagi, ia melihat kebenaran...
Maka perbuatan yang kita lakukan, jika kita sudah kegelapan, adalah penuh kecerobohan, dan berkecenderungan membahayakan dirinya sendiri.
Manusia dalam pandangan Allah, merupakan mahluk yang di banggakan dalam penciptaannya, sehingga Allah memamerkan manusia pada mahluk lainnya, baik malaikat dan Iblis, akan kehebatan manusia (Adam) pada dua mahluk sebelumnya yang telah lebih dahulu Allah ciptakan.
Seperti pada kisah Nabi Adam yang Iblis dengki padanya, dan ia (Iblis), berusaha mencari celah untuk menjatuhkan harkatnya di mata Allah, sehingga Nabi Adam harus terbuang ke bumi, sebagai suatu bentuk hukuman Allah, akibat dosa pertama manusia, yang Adam lakukan, karena ia melanggar perintah Allah, dengan memakan buah Khuldi, yang Allah wanti-wanti berpesan padanya (Adam), agar tidak mendekati itu, apalagi sampai memakannya.
Adam pun segera bertobat setelah ia menyadari kekhilafannya, namun surga bukan lagi tempat ia untuk bisa ditinggali, maka bersama Siti Hawa, pasangannya, Adam diturunkan ke dunia.
Bila Adam bertobat, dan tobatnya di terima Allah, namun posisinya kini harus di bumi, tidak di surga lagi, itu adalah bentuk pengajaran Allah pada kita, yang artinya apa ?
Manusia akan lebih baik jika ia selalu menjaga kesuciannya, dan Allah menyukai hal seperti itu.
Adapun jika manusia khilaf, dan segera mengambil tobat, Allah akan menyambutnya, dan tetap mencintainya, sehingga manusia sebagai kebanggaannya Allah, bisa selalu Allah banggakan di hadapan setiap mahluknya, baik, Iblis, Jin, Malaikat, dan Manusia lainnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!