REFLEKSI | Taubat Hamba Kegembiraan Tuhan
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
MANUSIA tak ada yang suci. Semua mahluk yang bernama manusia ada dalam kealfaan, dan khilaf, tak terkecuali para Nabi, pun Rasulullah yang sempat ditegur oleh Malaikat, karena ia pernah bermuka masam pada seorang buta yang datang padanya, Abdullah bin Ummi Maktum, saat itu.
Bedanya, manusia biasa ketika berbuat khilaf, dosa, kadang ia lupa untuk segera menyadarinya, sedangkan untuk Nabi, terkhusus Rasulullah, malaikat langsung mengingatkannya.
Dosa-dosa yang dibuat manusia, pada dasarnya, jika terus itu dilakukan, akan membentuk sebuah karakter, disebabkan hatinya yang bertambah keras
Ia akan merasa paling benar. Ia merasa paling utama. Dan pada akhirnya, kejumawaan pun muncul, rasa sombongnya mendominasi.
Dengan demikian, lambat laun, hatinya pun kian membatu. Hatinya gelap.
Itu seperti halnya sebuah batu hitam, dilorong yang gelap, di malam yang pekat...tak terlihat apapun. Dengan begitu, semua potensi baik, sedikitpun tak bisa tembus, dan susah diharapkan muncul.
Setiap perbuatan dosanya, akan seperti debu, yang semakin menumpuk, semakin tebal, dan akhirnya menutupi potensi baik di diri kita.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan dosa maka akan tertera satu noktah hitam di hatinya"
Dosa bisa jadi adalah sebuah pembelajaran, untuk mengenal hal baik maupun buruk, itu jika kita mengambil pelajaran atas dosa yang pernah kita perbuat, dan mentafaqurinya.
Tapi dosa akan membuat kita terus tersesat, terus menjerumuskan, takala kita tak memiliki rem, untuk segera menyadarinya.
Bagaimana kita mengenali suatu perbuatan itu adalah dosa ?
Itu bisa kita rasakan, ketika kita mau berbuat sesuatu, hati kita tidak nyaman, waswas, dan gelisah, berarti apa yang mau kita perbuat, akan bertentangan dengan kata hati, dan bisa jadi, akibat kecerobohan kita, kita terjebak dalam kubangan "dosa," yang tidak dikehendaki oleh hati kita ini.
Kita tentunya punya sinyal, alarm, yang Allah taruh dalam diri kita, yakni adanya hati ! Seperti itu isyarat hati kita, mengingatkan yang jadi pemilik tubuh (kita) untuk tak melakukan apa yang hati ini tak kehendaki.
Apa itu hati? Hati adalah segumpal daging dalam diri manusia, yang Allah beri ia anugrah, untuk menjadi penasehat sejatinya manusia.
Bila hati itu baik, maka baik pulalah seluruh pola perilaku kita. Bila tidak, maka kita berkecenderungan berperilaku negatif.
Hati ibarat Raja, ia penguasa diri kita, jika kita bersandar pada hati sebagai kompas atau petunjuk jalan. Hati adalah Raja bagi seluruh anggota badan kita. Bila pandangan sang Raja, benar maka terang semua perbuatan kita, bila hati sudah kelam, maka tak mampu lagi, ia melihat kebenaran...
Maka perbuatan yang kita lakukan, jika kita sudah kegelapan, adalah penuh kecerobohan, dan berkecenderungan membahayakan dirinya sendiri.
Manusia dalam pandangan Allah, merupakan mahluk yang di banggakan dalam penciptaannya, sehingga Allah memamerkan manusia pada mahluk lainnya, baik malaikat dan Iblis, akan kehebatan manusia (Adam) pada dua mahluk sebelumnya yang telah lebih dahulu Allah ciptakan.
Seperti pada kisah Nabi Adam yang Iblis dengki padanya, dan ia (Iblis), berusaha mencari celah untuk menjatuhkan harkatnya di mata Allah, sehingga Nabi Adam harus terbuang ke bumi, sebagai suatu bentuk hukuman Allah, akibat dosa pertama manusia, yang Adam lakukan, karena ia melanggar perintah Allah, dengan memakan buah Khuldi, yang Allah wanti-wanti berpesan padanya (Adam), agar tidak mendekati itu, apalagi sampai memakannya.
Adam pun segera bertobat setelah ia menyadari kekhilafannya, namun surga bukan lagi tempat ia untuk bisa ditinggali, maka bersama Siti Hawa, pasangannya, Adam diturunkan ke dunia.
Bila Adam bertobat, dan tobatnya di terima Allah, namun posisinya kini harus di bumi, tidak di surga lagi, itu adalah bentuk pengajaran Allah pada kita, yang artinya apa ?
Manusia akan lebih baik jika ia selalu menjaga kesuciannya, dan Allah menyukai hal seperti itu.
Adapun jika manusia khilaf, dan segera mengambil tobat, Allah akan menyambutnya, dan tetap mencintainya, sehingga manusia sebagai kebanggaannya Allah, bisa selalu Allah banggakan di hadapan setiap mahluknya, baik, Iblis, Jin, Malaikat, dan Manusia lainnya.
Hal itu tentunya bisa menunjukan bukti, betapa Allah senang manusia yang sebelumnya sebagai pendosa, mau kembali bertobat, mensucikan fitrah dirinya, pada kemuliaan diri yang Allah sukai.
Ini tentunya sebagai sebuah gambaran, jadi contoh terbaik, untuk manusia lainnya, bahwa dengan kecintaan Allah, manusia yang bertobat, bisa menggapai kemuliaan dirinya kembali.
Perhatikan taubatnya Umar bin Khattab, yang sangat terkenal. Perhatikan taubatnya Ibrahim bin Adham, seorang wali besar dari Persia Perhatikan taubatnya Sunan Kalijaga.
Perhatikan juga tauatnya wali besar bernama Uthbatul Ghulam, dimana pada masa mudanya, tidak ada perbuatan maksiat yang tidak pernah ia dilakukan semua perbuatan dosa-dosa besar pernah dilakukan oleh dia....sehingga pada majelisnya Imam Hasan Al Basri ia mendapat hidayah, setelah ia bertanya soal taubatnya apakah Allah terima atau tidak. Uthbah bertanya kepada Imam Hasan Al Basri: “Ya Syekh, Apakah Allah itu mau menerima tobat seorang pendosa seperti saya ini?”.
“Diterima, pintu tobatnya Allah terbuka, selama kau betul-betul minta ampun kepada Allah” jawab Imam Hasan Al Basri.
Mendengar jawaban tersebut Uthbah jatuh pingsan, bangun dari pingsannya Uthbah kembali bertanya kepada Imam Hasan Al Basri, dia masih tidak percaya orang seperti dirinya ketika bertobat masih diterima oleh Allah SWT, karena Uthbah begitu menyadari betapa dosa-dosa yang dia lakukan begitu banyak.
Lalu Imam Hasan Al Basri menjelaskan “Sebesar apapun dosamu kalau kau betul-betul bertaubat kepada Allah SWT maka dosa-dosamu akan di ampuni oleh Allah SWT”.
Seketika Uthbah pingsan kembali, ketika bangun dari pingsannya Uthbah bertanya lagi, dan Imam Hasan Al Basri tetap menjelaskan bahwa diterima tobatnya seseorang yang benar-benar bertobat.
Lalu Uthbah berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Allah, kalau Engkau menerima taubatku dan Engkau ampuni dosa-dosaku maka muliakanlah aku dengan pemahaman, mudah memahami dan menghafal ilmu dan Al Qur’an yang aku dengar. Wahai Allah muliakanlah aku dengan suara yang merdu sehingga orang yang mendengar bacaan ku bertambah kelembutan dalam hatinya. Wahai Allah muliakanlah aku dan berikanlah aku rizki yang halal dan berikanlah aku rizki yang tak terduga-duga”.
Dan doa Utbah diijabahi oleh Allah SWT, karena orang yang bertobat itu berubah derajatnya dari orang yang dimurkai menjadi orang yang dicintai oleh Allah SWT.
Diriwayatkan bahwa sampai-sampai setiap orang yang mendengar bacaan Alquran dari Uthbah bisa membuat orang tersebut bertaubat kepada Allah SWT.
Dan setiap hari dirumahnya tiba-tiba ada saja orang yang memberi makanan kepada Uthbah dan itu terus berjalan sampai Utbah meninggal dunia. (Sumber: Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi Solo)
Allah maha penerima "taubat," hanya tinggal manusianya saja yang harus mengejar hidayah, Qur'an surat Hud ayat 3; "Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya,.."
Dari Abu Hamzah Anas Bin Malik Al Anshariy ( pembantu Rasulullah SAW.), berkata : Rasulullah SAW, bersabda; "Sesungguhnya Allah gembira menerima tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang diantara kalian ketika menemukan kembali ontanya yang hilang di padang yang luas."
Begitulah Allah gembira menerima taubat para hambaNya. Allah membentangkan tangannya setiap waktu untuk menerima taubat kita, baik pada waktu pagi, siang, sore, petang, maupun malam. Setiap detik Allah tunggu taubatnya para hamba yang ia cintai.
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra. Dari Nabi SAW., beliau bersabda ;" Sesungguhnya Allah yang maha Agung akan menerima taubat sebelum nyawanya sampai pada di tenggorokan (sebelum sekarat)." (HR.Tirmidzi). Alhamdulillah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!