REFLEKSI | Tentang Cinta

ED
Jumat, 16 September 2022 | 09:33 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Tentang Cinta

Oleh Bambang melga Suprayogi M.Sn.

KEBERADAAN cinta dalam setiap diri manusia itu absurd tidak memiliki bentuk yang normatif, semuanya berdasarkan hal yang mengalir dalam perspektif subjektif yang datang dan membesar dalam hati, pikiran, dan psikologis seseorang, akan rasa suka yang hadir dan mendatangkan benih cinta itu sendiri.

Rasa cinta merupakan hadirnya perasaan tertentu, yang kedatangannya mendatangkan rasa bahagia tak terkira, dengan terpuaskannya bagian hati kita.

Cinta menurut seorang pejuang hati, seperti pernyataan Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang mempunyai pandangan rasa cinta yang tak biasa dari manusia-manusia yang ada di bumi, dalam perenungan-perenungan cintanya, ia berpandangan, "Cinta adalah segalanya, alam semesta ini adalah alam cinta, semua yang terjadi dalam proses kehidupan ini muncul dari cinta."

Jadi Cinta merupakan menampakan yang ada dalam kesemestaan kita, mewujud dan selalu muncul dalam setiap denyut kehidupan ini.

Cinta pada kesemestaan merupakan ujung cinta pada illahi yang telah menghidupkan kita.

Sehingga bentuk cinta yang beragam, mesti kita pilah untuk mendapatkan cinta sesungguhnya, diluar cinta yang paling utama, antara kita dengan sang pencipta.

Lalu cinta yang bagai mana ini ?

Biarkan cinta pada sang pencipta hanya kita denganNya yang tahu.

Tapi cinta lainnya, sebagai salah satu cara menampakan bentuk cinta, hingga kita bisa menghadirkan cinta kita pada bumi, pada kesemestaan itu cinta yang seperti apa ?

Cinta pada kekasih itu biasa ! Cinta pada keluarga itupun biasa ! Bahkan cinta pada hidup kita itupun terlampau biasa ! Juga cinta pada agama kita ini terlampau biasa-biasa saja, sudah umum, karena untuk setiap umat, di agama dan kepercayaan apapun, tentunya akan mencintai agamanya.

Nah, nabi memberi gambaran soal cinta yang harus kita sadari, bahwa itu cinta luar biasa yang seharusnya menjadikan pegangan buat setiap muslim yang unggul, agar mau menjalankannya.

Karena cinta yang ada di sana sudah merupakan pengambaran cinta yang perspektifnya luas, global, melampaui sekat-sekat perbedaan keyakinan.

Nabi tidak menjadikan dan mengajarkan fanatik buta, yang hanya bicara dan menganggap agama kita saja yang paling benar !

Dalam qur'an pun kita di ajarkan untuk menghormati para ahli kitab, tidak menyakitinya, dan kita tak arogan hanya karena jumlah kita dominan.

Lihat apa yang nabi buat dengan adanya piagam Madinah. Itu adalah bukti rasa cinta, luar biasa sang nabi untuk alam semesta ini.

Sehingga salah kaprah kita, ketika lidah kita dikendalikan setan, bicara agama di atas mimbar, tapi mudah memakai lidah kita, bicara untuk menyakiti, dan menghujat agama, keyakinan lainnya.

Cinta yang di ajarkan Nabi SAW dalam hal ini tidak ke sana bentuknya ! Dan tak mengajarkan membenci, dan menghujat keyakinan pihak lainnya.

Titah Nabi, tentang cinta ini ada dalam hadist, dan jadi hal yang fundamental. Sangat dasar yang harusnya disadari oleh umat Islam kita

Sering di ulas tapi umat tak memahami hal ini. Sering di bahas hadistnya tapi tak mengungkap semangat cinta universal yang Nabi SAW dawuhkan.

Lalu cinta yang mana yang tersembunyi ini ? Sering di ulas, tapi ulasannya tak menyentuh itu.

Hadistnya adalah,“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.

Itulah cinta luar biasa yang didawuhkan dan dititipkan dalam pesan cintanya Nabi SAW pada setiap muslim untuk di jalankan.

Sudah kah kita menghadirkan cinta ini ?

Itu lah semangat cinta yang luar biasa, yang Nabi SAW titahkan pada umat muslim ini, yang melampaui sekat sekat perbedaan, dan keyakinan.

Sehingga nilai rahmat dari umat muslim ini, akan terasa bagi umat lainnya. Ujung-ujungnya, akan sangat nyata nantinya ruh dari rahmatan lil alamin, yang kita banggakan ini benar adanya...!

Semangat hadist di atas adalah membangun,"Cinta" yang harusnya kita tebarkan, bukan memancing kebencian yang digaungkan.

Sehingga pantas Gus Dur dalam ungakapannya menyatakan, 'Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu."

Alhamdulillah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.