Refleksi Tahun 2026, TB Hasanuddin: Pertahanan Negara Butuh Arah Jelas
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menyampaikan refleksi awal tahun 2026 terkait kondisi dan arah kebijakan sektor pertahanan negara di tengah dinamika lingkungan strategis global dan regional yang semakin kompleks. TB Hasanuddin menilai, sepanjang tahun 2025 kondisi lingkungan strategis mengalami perkembangan yang sangat dinamis.
Di kawasan Asia Tenggara, konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja akibat sengketa perbatasan menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Sementara di tingkat global, pada awal tahun 2026 dunia dikejutkan oleh tindakan Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke Amerika Serikat.
“Peristiwa tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam tatanan dunia internasional, khususnya terkait kepatuhan terhadap hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan negara,” ujar TB Hasanuddin melalui keterangannya, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, situasi global tersebut seharusnya menjadi peringatan penting bagi Indonesia untuk menilai sejauh mana kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan ancaman dari sisi penguatan pertahanan negara.
Sepanjang tahun 2025, TB Hasanuddin mencatat terdapat dua isu menonjol dalam kebijakan pertahanan Indonesia. Pertama, dinamika pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang terkesan sporadis, kurang terencana, dan berpotensi menimbulkan beban fiskal yang besar.
Pemerintah Indonesia diketahui telah menandatangani kontrak pembelian jet tempur Rafale dari Prancis dan KAAN dari Turki. Dalam waktu yang berdekatan, pemerintah juga menyatakan ketertarikan untuk membeli jet tempur J-10 dari China, serta mengaktifkan kembali kontrak program jet tempur KF-21 yang sebelumnya sempat tertunda cukup lama.
“Akuisisi alutsista dari berbagai negara dengan sistem yang berbeda-beda ini berpotensi menimbulkan persoalan serius dalam hal interoperabilitas, efektivitas operasional, dan efisiensi biaya pemeliharaan,” tegasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!