REFLEKSI | Nama Baik
Semisal, tiba-tiba datang rasa sombong, yang diperlihatkan dengan kita acuh tak acuh pada suatu peristiwa, yang mana publik sedang memperhatikan sikap kita.
Dalam suatu peristiwa, tiba-tiba datang rasa merasa perlu dihormati, dan orang harus mengetahui kapasitas kepangkatan, keberadaan, atau jabatan kita...dan sikap lainnya, yang akan terlihat dari semua hal, baik dari gesture kita yang nampak tak anggun, dan terlihat angkuh.
Menjaga nama baik bukan berarti kita harus manis di mulut, terlihat baik dari sikap, dan terlihat kita orang yang soleh, dan sudah benar dalam berilmu, karena ini bisa jadi seperti jebakan, pulasan, bedak tebal yang menutupi borok, dan Itu masih sebatas kulit !
Dan kadang banyak orang tertipu dengan apa yang nampak secara visual, kasat mata itu.
Kebaikan yang hakiki dari kita sebagai individu dalam menjaga amanah nama baik kita, adalah karakter kita sebenarnya, yang kita miliki, dan telah diperjuangkan selama kita menyadari bahwa diri kita harus berkarakter baik, yang memang telah kita usahakan, untuk bisa menjaga nafsu-nafsu kita dalam urusan duniawi, dan sahwat, yang bisa mengelincirkan nama baik kita, dihadapan manusia maupun sang pencipta.
Menjaga nama baik kita, tak lepas dari kemampuan kita dalam mengontrol diri, menjaga kesadaran, dan menjaga kewarasan kita sebagai individu, maupun mahluk sosial.
Itu akan bisa kita rasakan, saat ada pergulatan pemikiran, pemahaman, dan konflik-konflik yang menguji karakter baik kita dilapangan, di kehidupan nyata, baik dalam keluarga inti, sanak famili keluarga besar, bahkan dengan masyarakat luas ketika kapasitas kita membesar dan pengaruh kita semakin meninggi.
Menjadi manusia yang mampu menjaga nama baik itupun akan di uji !
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!