SKETSA | Motif Pembunuhan

ED
Selasa, 30 Agustus 2022 | 08:03 WIB
Bagikan
SKETSA | Motif Pembunuhan

Oleh Syakieb Sungkar

SESEORANG yang sudah dewasa apalagi mempunyai posisi yang demikian penting di masyarakat, biasanya tidak akan mudah tersulut emosi. Apalagi emosi tersebut kemudian membangkitkan suatu tindakan yang membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Orang biasanya akan mengambil tindakan beresiko besar jika ia sedang membela suatu kepentingan sangat krusial yang menyangkut hidup mati dirinya. Atau resiko itu diambil karena benefit yang dijanjikan, seperti promosi dan keuntungan pribadi dalam bentuk nilai finansial. Tindakan membunuh seseorang melibatkan suatu upaya pengambilan resiko yang sangat besar. Jika orang yang akan dibunuh itu adalah orang yang dekat dirinya, anak buahnya sendiri, maka resiko akan ketahuan itu mungkin sekali. Apalagi kalau pembunuhan itu dilakukan di rumah sendiri, maka resiko bertambah besar.

Belum lagi upaya pembunuhan itu melibatkan banyak orang untuk berpartisipasi, maka tindakan itu menjadi super duper berisiko untuk terungkap. Saat ini sudah 97 oknum polisi yang terlibat dalam rekayasa kasus demi mendukung alibi Sambo. Apa yang akan terjadi dengan nasib mereka, apakah dipecat, dihukum penjara, diturunkan pangkat, dikenakan sanksi administratif, sangat tergantung pada hasil sidang Komite Etik yang akan diselenggarakan dalam waktu yang tidak lama lagi. Banyaknya orang yang ikut serta dan melibatkan lintas divisi menunjukkan betapa kuatnya Sambo selama ini. Bagan kekuasaan ‘kerajaan’ Sambo yang beredar luas di medsos bisa menjadi suatu indikasi betapa abuse of power di lingkungan Sambo sudah demikian laten, berurat berakar. Hal itu juga ditengarai oleh Mahfud MD bahwa jabatan Kadiv Propam rentang kendalinya terlalu luas, dari mulai penyelidikan, pemeriksaan, pengadilan dan memvonis - semuanya ada dalam satu tangan, sehingga Jendral bintang tiga pun takut dengan Sambo. Itulah alasan mengapa ketika Sambo meminta sesuatu, yang dalam hal ini permintaan tercela menutupi jejak pembunuhan, langsung dipenuhi dengan suka rela.

Namun mengapa pembunuhan itu dilakukan juga walau besar resikonya? Bukankah Ferdy Sambo itu seorang Jenderal bintang dua yang mempunyai pasukan demikian banyak. Ia tinggal memerintahkan secara rahasia salah satu suruhannya untuk menghilangkan nyawa anak buahnya tersebut di suatu tempat – bukan di rumahnya – pada suatu saat yang tepat tanpa banyak ribut. Ia dengan mudah akan mengatakan tidak tahu jika ada yang menanyakan mengapa anak buahnya tiba-tiba hilang. Bisa saja ia mengatakan anak buahnya itu bandel dan sedang melakukan desersi. Suatu denial yang tidak akan mencelakakan dirinya sendiri. Karenanya, orang menduga upaya nekat Sambo membunuh pasti digerakkan oleh urgensinya untuk membunuh atau menghilangkan nyawa Yosua. Bukan didasari suatu alasan perselingkuhan atau pelecehan. Bukankah perselingkuhan itu suatu hal yang biasa, bahkan Sambo sendiri diduga berselingkuh juga dengan seorang wanita cantik di Kepolisian. Mengapa harus membunuh orang yang berselingkuh di rumahnya sendiri dengan tangannya sendiri? Pasti alasan yang sebenarnya bukanlah urusan perselingkuhan, tetapi urusan lain.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.