REFLEKSI | Minyak Goreng, Tempe dan NKRI
KITA anak bangsa ini harus pandai bersyukur. Alhamdulillah masih punya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perkara minyak goreng, dan ketiadaan tempe, bukan membuat kita harus marah ! Masa baru di uji seperti itu, bangsa kita mendadak lupa bersyukur!
Jadi marah-marah, emosional, dan membanjiri media sosial dengan menyalahkan negara, menyalahkan pemimpin, menyalahkan aparat...semua dikritisi, "Lahan dijadikan kebun sawit, perkara minyak goreng, ko malah susah dan hilang dari pasaran !"
Semua dikait-kaitakan, ada yang bilang waktu jaman Corona jilid pertama, "Yang susah itu hand sanitizer, dan masker..." Sampai pada periode Corona sekarang, eh yang sulit malah minyak goreng, kedelai mahal, dan berimbas pada tempe hilang dari peredaran.
Waduh, semua serba pandai berburuk sangka. Termasuk kalangan cendikiawan nya juga malah ikut terbawa-bawa awam, bukannya meredam, malah buat pernyataan yang menyulut api dalam sekam.
Bu ne, kita harusnya bisa melihat negara lain, ada yang lebih parah dari kita...mengapa kita lupa menengok kebawah? Yang ada malah kesempatan buat menjatuhkan Marwah pemerintah!
Negara salah apa ?
Di kita jujur banyak mafia! Dan orang-orang yang memanfaatkan situasi untuk cari nama, dan buat kisruh sosial.
Masa kita harus kalah dan masuk dibarisan orang-orang yang jelas kontra pemerintah ! Apakah kita tak berkaca pada kehancuran Suriah, Libia, Afghanistan ! Pelopornya siapa !
Di Suriah, Yaman, Palestina, kondisinya sangat parah, begitupun di Afghanistan, Libia dan beberapa negeri Islam lainnya yang sudah porak poranda.
Mau kita hancur seperti negara itu ? Apalagi mau dihancurkannya, hanya dari perkara, gara-gara kelangkaan minyak goreng, dan tempe ! Hadeuh !
Naif jika gara-gara minyak goreng dan tempe, NKRI di goyong oleh mereka yang mencari kesempatan untuk menjatuhkan pemerintahan.
NKRI itu kuat kang mas! Dahulu saja jaman Jepang, kita susah makan nasi, rakyat masih bisa makan gaplek atau tiwul. Dengan gaplek atau tiwul, kita malah kuat, mampu mengusir Jepang dan merebut kemerdekaan.
Sekarang, malah sebaliknya, tidak ada minyak goreng, dan tempe, kita rasanya sudah merasa terjajah...!
Terjajah siapa kang mas ?
Makan sampeyan saja yang suka mengkritisi pemerintah, tidak ada tuh menu tempenya, seperti kita orang-orang kelas bawah.
Hanya gara-gara ada kesempatan untuk mengkritik pemerintah, eh, si kang mas ini, sok jadi pembela tempe, berikut jadi pejuang ketiadaan minyak goreng... Alah gayamu kang mas, kebablasan, Sok pahlawan kesiangan.
Kita sekali lagi, masih harus banyak bersyukur! Persoalan kelangkaan minyak goreng, tempe, apapun itu, tak harus menjadikan kita ikut-ikutan sentimen dan berburuk sangka.
Kita ini bangsa kuat. Kita ini masyarakat bermartabat. Selalu ada jalan keluar untuk persoalan yang memang diciptakan oleh mereka yang bermaksud membuat chaos!
Bersabarlah sebentar, wahai warga masyarakat NKRI ! Bersabarnya kita, tak seperti bersabarnya rakyat Negeri Yaman, Libia, Afghanistan yang sudah kehilangan harapan masa depan....dan sedang memulainya lagi dari awal perjalanan bangsanya.
Kita jangan kalah oleh tempe, oleh kedelai, oleh tahu, dan minyak goreng. Jangan banyak berkeluh dengan keadaan yang sebetulnya kita masih mampu membeli minyak goreng itu sendiri. Sedikit mahal, beli saja dulu, toh pemerintah pun tak tinggal diam, dan sedang mencari si biang onarnya.
Terus berprasangka baiklah. Banyak bersyukurlah. Kita tak harus mudah di adu domba.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh...!
Akhirnya, kata-kata mutiara yang sudah jarang di dengar ini, harus jadi kata pamungkas penulis menutup narasi minyak goreng, tempe, dan NKRI.
Alhamdulillah.
*** (Penulis, Bambang Melga Suprayogi S.Sn.,M.Sn adalah Dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!