REFLEKSI | Merasa Hebat
Manusia yang berkarakter baik, terbentuk oleh didikan keluarga, lingkungan, dan pengalaman berharga dari hidupnya.
Kehidupan akan membentuk bagaimana ia memahami baik dan buruknya kehidupan...jika ia mengambil pelajaran dari ini, maka ia akan menjadi manusia waspada, yang selalu ingat akan nikmat luar biasa dari Tuhannya yang telah melebihkannya dari orang lain.
Dan andai ia lupa pada apa yang telah Allah hikmahkan bagi hidupnya, dimana ia telah mengambil banyak pelajaran.
Maka ia sama, seperti lupanya sahabat Nabi, Tas'labah yang awalnya merupakan orang beriman, saleh, dermawan saat ia masih miskin, dan setelah Allah berkahi kekayaan lewat hewan dombanya yang terus beranak pinak, memenuhi bukit sekitaran Mekkah, ia akhirnya menjadi seorang yang sombong, pelit, kikir, lupa pada Allah, lupa pada Nabinya yang telah memberinya do'a, dan lupa pada kebaikan yang harusnya melekat padanya, karena dulu ia adalah seorang yang sengsara.
Manusia sombong adalah manusia yang tak terdidik akhlaknya. Hatinya tertutup butiran debu yang menutup kebeningan nuraninya. Ia lahir bagaikan anak ular yang membahayakan siapa pun.
Dan andai, ia pun tertempeli iblis, setan yang menjadi figur rujukannya, walau ia tak menyebutkan itu, tapi lihat... sikap, karakter, dan sifatnya, yang tak jauh dari gaya, sifat, dan karakter, dari yang menjadi rujukannya, yakni, si iblis itu sendiri.
Setan atau iblis itu sombong, ia selalu merasa lebih hebat dari manusia, dan itu...sampai ia di turunkan ke Bumi, bawaan kesombongannya tetap masih melekat kuat.
Kesombongan itu seperti sebuah ajaran, ia bagai sebuah ideologi, atau paham yang dijejalkan pada manusia, supaya si manusia tidak disukai di kalangan manusia lainnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!