REFLEKSI | Menuju Satu Abad NU
Para benalu, penghianat negeri ini, mereka sangat paham, siapa yang bisa dipengaruhi, dan dijadikan alat kepanjangan tangan mereka.
Hal ini, karena ikatan yang kuat, membawa isme agama untuk di jadikan alat politik dalam ranah yang membenturkan agama dan negara, utamanya ketika negara di katakan, tidak menerapkan syariat Islam maka pantas diperangi.
Nahdlatul Ulama sebagai sebuah organisasi besar yang akan menuju usia genap satu abad tanggal 7 Februari 2023 ke depan, akan lebih siap menghadapi para perongrong negara, walau mereka, bersembunyi, menyamar, dalam kemasan tampilan yang sama dengan kita yang muslim.
Ciri mereka yang tidak mensyukuri nikmat bernegara ini, selalu menghembuskan keinginannya, dalam merubah bentuk negara, dan selalu mencari cara agar negeri ini chaos, panik, dan kacau.
Mereka para oknum pemuka agama khususnya Islam, selalu mencari cara bersebrangan dengan NU, dengan para tokoh utama pemegang kendali organisasi besar ini, di mulai dari Ketua PBNU pertama yang mereka musuhi, hingga ketua PBNU yang sekarang di tangan Gus Yahya.
Dan ini yang harusnya kita warga nahdliyin, NU waspadai, mereka seagama, sewarna kulit, satu bahasa, dan satu daerah pula dengan kita...Namun pikirannya, niatnya, dan semangatnya selalu ada untuk membokongi, dan menghianati negerinya sendiri.
Maka tak salah jika Soekarno Presiden Indonesia pertama menyatakan bahwa, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".
Pencarian jati diri para pemuda-pemudi dalam mencari bentuk Islam yang kaffah, menyeluruh, tidak setengah setengah, mudah sekali merasuki pemuda, pemudi Islam yang sedang dalam proses pencarian jatidirinya, dan itu potensial di belokan pemahamannya oleh kelompok perongrongan negeri ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!