REFLEKSI | Menuju Kematian yang Dilupakan
Seperti ucapan belasungkawa penulis pada putranya, dan mengingatkan ia akan kiprah amal soleh bapaknya yang luar biasa mampu membangun hubungan baik dengan penulis lewat media sosial. Penulis banggakan bapaknya, dan menceritakan pada putranya, bahwa bapaknya, sahabat penulis yang meninggal ini, sangat membekas kehadirannya, dan selalu ingat hubungan baik yang diperbuatnya, walau ia hanya memberi emoticon jempol sebagai tanda support beliaunya, pada aktifitas apapun yang penulis buat, saat beliaunya masih hidup.
Baru dua hari kemarin penulis temui bapaknya. Baru saja ia siap ikut dengan penulis, untuk berkiprah di lembaga yang penulis pegang di LTN NU, supaya kita bisa kiprah bersama dan ada kebermanfaat diri yang nantinya terasa bagi umat.
Alhamdulillahnya, ia tertarik dan siap berhidmat...Niatnya saja sudah terpuji, dan itu penulis dengar sendiri bagaimana ia antusias. Itu juga yang ceritakan dari putranya, dan disampaikan kembali cerita itu pada penulis...Alhamdulillah niatnya sudah mulia, ini menjadi catatan khusus tentang pentingnya niat yang tidak bisa di anggap sepele.
Kita kadang lupa kapan kita akan dipanggil sang maha pencipta. kita terlalu pongah dan merasa hidup kita masih akan lama, dan jauh dari kematian.
Adakah kebaikanmu yang telah engkau bangun di media sosial ?
Sangat penting jika kehadiran kita, kebaikan kita, kebermanfaatan diri kita membekas dan diingat para sahabat kita.
Insyaallah Surga menanti kedatangan kita pada saatnya nanti.
Mari bangun kebaikan diri, di ruang-ruang apapun yang mampu kita bangun.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!