REFLEKSI | Menuju Kematian yang Dilupakan

ED
Selasa, 19 Juli 2022 | 10:25 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Menuju Kematian yang Dilupakan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

BARU saja dua hari lalu penulis menemui seorang sahabat yang sama tinggal dalam satu komplek, maksudnya penulis mengajak beliau untuk bisa bergabung bersama penulis, mempersiapkan masa tua, dengan aktif dalam satu lembaga, yang insyaAllah syarat dengan aktifitas yang bermanfaat nantinya, dan itu sebagai ladang amal saleh yang bisa dilakukan oleh kita di lembaga tersebut.

Itu dua hari lalu, dan saat penulis sedang melakukan kegiatan kemasyarakatan, di group WA baik di RT, dan group WA RW, diberitakan, teman penulis yang dua hari lalu datang dikunjungi, telah menghembuskan nafas terakhir, ruhnya dipanggil, dan meninggal ia akibat sakit lambungnya.

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un... Manusia siapa pun itu, sehebat apapun ia, jika waktunya telah tiba, kematian tidak bisa ditunda, dan semua kita hanyalah sedang menunggu giliran dalam barisan antrian yang andai kita lalai, bisa jadi kematian diri kita, tidak seperti ujung pengharapan, meninggal dalam keadaan baik, husnul khatimah.

Berbuatlah baik, dan lakukanlah hal yang bermanfaat, karena kita tak tahu kapan akhir dari keberadaan kita hidup di dunia ini akan berakhir.

Dan penulis sangat iri pada sahabat penulis yang meninggal itu, ia memiliki reputasi baik di masyarakatnya, seorang yang murah senyum, selalu membantu dalam hal kreatif pada saat masyarakat membutuhkan bantuan skillnya yang mempuni dalam bidang editing film, bidang desain, dan kemampuan kreatif lainnya, yang kemampuannya jarang dimiliki masyarakat.

Dalam bergaul beliaunya berbaur dengan semua golongan, dan ketika terjadi benturan khilafiah, saat itu terjadi, ia santai tak condong ke salah satu paham, yaa mungkin ia sudah mengerti, mengurus urusannya sendiri saja, itu sudah sulit, apalagi ikut dan terlibat dalam hal yang berkaitan furu'iyah, perbedaan pandangan, pola fikir, pendapat, faham, dan berbagai perbedaan lain yang seringkali memicu perpecahan di masyarakat.

Kita memang jarang bisa meluangkan waktu banyak berkecimpung dalam pergaulan intens di masyarakat. Untuk yang sibuk bekerja sebenarnya, ada saja ruang-ruang khusus yang bisa kita pakai dalam menyapa masyarakat kita itu, ini tak hanya di dunia real (nyata).

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.