REFLEKSI | Maulid Nabi
Namun sulit untuk membuat hal yang luar biasa, spektakuler, dalam membangkitkan semangat juang jika itu terjadi pada masa Salahuddin Al Ayyubi.
Bahkan bisa jadi juga, ia tergolong manusia lemah, yang gampang lari dari medan perang, saat tentara Salib seperti yang diprovokasi Raynald mengancam akan menyerang Kota Suci Makkah dan Madinah, dengan aksi awalnya menjarah karavan jamaah haji pada tahun 1185...
Karena lemah, dan semangat jihad tentara Islam meredup, akhirnya tentara Salib berlanjut bisa merebut Makkah, dan Muslim akhirnya terpuruk karena tidak memiliki semangat perlawanan karena lelahnya berperang.
Bersyukurlah kita selalu disemangati Sang Nabi. Bersyukurlah kita memiliki Pahlawan seperti Salahuddin Al Ayyubi. Sehingga hal itu tidak pernah terjadi.
Walau ia (Nabi ) telah tiada, namun memperingati hari lahirnya, yang di sebut Maulid Nabi itu, kita umat ini, akhirnya, selalu memiliki persatuan, kekuatan, semangat, dan kegembiraan tak terkira, seperti kegembiraan pada masa awal Nabi dilahirkan, dan seluruh keluarganya, Bani Hasyim Quraisy bergembira, bersuka cita, dan alampun sampai merayakannya.
Lalu karena kita merasa zaman Nabi, Maulid tidak pernah dirayakan, dan kita mengumpat, mencela!
Apakah kita lupa, Nabi sendiri selalu merayakan kelahirannya dengan berpuasa disaat hari lahirnya !
Maka nikmat Maulid mana yang tidak kita syukuri...Andai kelahiran kita saja kita peringati, akan sangat naif jika kelahiran Nabi tidak kita peringati dengan doa, salawat, pujian, dan kebersamaan dengan saudara-saudara Islam kita, yang meyakini, Maulid Nabi ini adalah mukjizat terbesar Nabi, yang memberi kita rasa bangga, rasa cinta yang besar pada Nabi kita, dan kebahagiaan yang tak terkira.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!