(Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)).
REFLEKSI | Manusia Utama
Oleh Bambang Melga Suprayogi
SETIAP keyakinan dari seluruh ajaran agama samawi, mutlak datangnya dari Tuhan, Dia sang Maha Pencipta.
Semua petunjuk dari Tuhan pada para nabi, adalah memberi arah, jalan, atau jadi pedoman mutlak bagi seluruh umatnya...dan mereka para nabi, para rasul, datang dalam suatu kaum, khusus sebagai rahmat, penerang umat, agar umat tahu tujuan hidupnya, dan paham, untuk apa mereka diciptakan.
Petunjuk Tuhan dalam berbagai kitab suci, merupakan sumber rujukan, pegangan, pedoman umat, agar umat tak salah jalan, tak salah arah, tidak melenceng, dan lurus pada rambu yang sudah ditetapkan, dari petunjuk ajaranNya, yang ada pada kitab suci setiap keyakinan.
Lalu bagaimana manusia bisa memiliki maqom mulia ? Manusia paripurna yang menunjukan keutamaannya ?
Menjadi manusia mulia adalah dambaan setiap orang, baik orang awan, maupun para agamawan. Tapi sedikit sekali dari manusia dengan titel apapun, dan status apapun untuk sampai pada posisi menduduki maqom manusia mulia ini ! Apa sebab nya ?
Untuk bisa sampai pada maqom manusia mulia, manusia sudah harus memiliki ketulusan hati. Bening hatinya, tak ada intrik, hasud, iri, dengki, dan sebagainya.
Untuk sampai sana, menuju maqom manusia mulia, hatinya harus bersih dulu. Hatinya harus terjaga!
Manusia mulia itu, manusia yang dalam hatinya tersimpan banyak kasih sayang, banyak rasa cinta, dan memandang semua mahluk dengan kesetaraan dan penghormatan. Baik pada yang pintar, yang bodoh, miskin, kaya, pejabat, maupun rakyat jelata...!
Dimatanya sama, semua adalah manusia sederajat dalam wujud mahluk ciptaan Tuhan, yang sama telah menciptakan dia juga.
Nah, setelah menjadi manusia yang bersih hatinya, akan datang pada dirinya, cahaya untuk membuka relung-relung terdalam dari bilik hati yang ia miliki.
Fase berikutnya maka, akan ia dapati petunjuk yang akan menguatkan dirinya pada suatu karakter kesalehan sosial, yang sudah tidak bersekat persoalan keyakinan, etnis, suku, ras, dan warna kulit.
Dan dalam hati manusia mulia yang sudah terberkati hatinya itu, hatinya... sudah sangat kuat, condong pada kebaikan, pada keutamaan, pada rasa sifat ketuhanan yang menebar rahmat, dan memberi kesejukan pada umat.
Dalam pengaplikasian kehidupannya, manusia pilihan ini, otomatis, menjadikan dirinya, sosok pribadi yang berguna bagi manusia kebanyakan, sehingga Tuhan menunjukan jalan-jalannya, dengan sangat enteng, hingga tak berat dia menjajaginya, untuk sampai pada tujuan yang ia cari.
Manusia mulia, manusia paripurna, merupakan pribadi yang lebih mementingkan memberi manfaat, yang bisa ia beri untuk banyak orang, itu selama ia bisa membantu dan melakukannya.
Diamnya ia, adalah mendoakan sesama agar diberi kemudahan dalam setiap urusan oleh Tuhannya. Dan turun tangannya dia, adalah salah satu bentuk menebar kebaikan, yang pastinya memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, untuk mendapatkan kemudahan...dan itulah cara manusia paripurna menunjukan ke unggulan kwalitas dirinya.
Dengan kata lain, ia mau membantu, melayani, bahkan mengantar manusia lainnya untuk bisa menyelesaikan urusannya. Tanpa minta imbalan, tanpa mau menerima upah atas apa yang telah ia lakukan.
Itulah manusia utama, manusia mulia yang tak mementingkan dirinya sendiri, sehingga hidupnya pun bisa mencahayai orang lain disekelilingnya. Alhamdulillah.
Semoga kita mampu mencapai keutamaan untuk bisa menjadi manusia utama, manusia mulia yang Allah ridho'i, Amin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!