REFLEKSI | Jagalah Hajimu Sampai Ajal Menjemput
Ketiga, kenakanlah peci putih saat keluar rumah. Ini bukan hanya simbol kesalehan, tetapi pengingat identitas baru kita. Peci itu bisa menjadi benteng moral, penjaga dari perbuatan buruk. Saat tergoda untuk bermaksiat, cerminlah diri sendiri: pantaskah seorang haji berbuat seperti itu?
Keempat, jika memungkinkan, pakailah terus gelang haji Anda. Ini adalah pengingat visual yang sangat kuat. Setiap hendak berbuat salah, lihatlah tangan Anda, ingatlah Anda adalah seorang haji. Gelang itu bisa menjadi rem ketika nafsu ingin melaju tanpa kendali.
Kelima, istiqomahlah membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan bersholawat. Amalan ini adalah energi ruhani yang menyertai kita selama di tanah suci. Jangan hilangkan kebiasaan itu. Tambahkan pula sholat-sholat sunah seperti Dhuha, Tahajud, dan sholat Taubat, agar kita terus berada dalam lindungan-Nya.
Keenam, sering-seringlah membayangkan kembali suasana Masjidil Haram, Ka'bah yang agung, dan Masjid Nabawi yang tenang. Kenangan itu adalah bahan bakar spiritual kita. Rasa rindu kepada tempat suci akan menjaga hati tetap lembut, penuh harap untuk kembali, atau minimal menjaga semangat ibadah.
Ketujuh, sesekali kenakan kembali pakaian ihram di rumah. Bukan untuk pamer, tetapi sebagai bentuk perenungan bahwa kita kelak akan kembali memakainya: saat kain kafan membungkus tubuh. Bahkan jika memungkinkan, wasiatkan agar kain ihram itu menjadi bagian kafan kita. Semoga Allah menjadikan akhir hidup kita dalam keadaan suci.
Akhirnya, semoga Allah menjaga kemabruran haji kita sampai akhir hayat. Haji yang satu kali, mabrurnya semoga sampai mati. Karena balasan bagi haji mabrur tak lain adalah surga. Jika tidak kita jaga, maka betapa meruginya kita. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas iman dan amal salih. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.***
- Penulis, Pimpinan BPIHU Samudra Mahabbah, Kabupaten Bandung
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!