REFLEKSI | Hadirkan Nurani dalam Dakwahmu

ED
Jumat, 10 Juni 2022 | 09:45 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Hadirkan Nurani dalam Dakwahmu
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
NURANI kita merupakan ruh penggerak Keimanan, yang merupakan tempat dari adanya gairah kebaikan-kebaikan dari sisi hamba secara individu, sebagai manusia ciptaanNya, dimana Allah langsung mencahayai hatinya dengan cahayaNya.
Hingga sifat dari nurani manusia yang baik tersebut, berwujud terang benderang, walau ia dalam perbedaan keyakinan, beda suku bangsa, dan budayanya.
Sehingga Allah menginggatkan kita sebagai manusia, agar satu sama lainnya untuk saling mengenal, mengenali.
' Wahai manusia! sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.
Al-Qur'an, surat Al Hujarat, ayat13.
Keimanan memerlukan bukti wujud dari kebermanfaat diri.
Mereka yang paling beriman, tak lepas dari sosok manusia yang paling banyak memberi manfaat dalam hidupnya bagi sesama.
Manusia yang paling baik, adalah manusia yang paling bermanfaat, seperti nabi berujar, Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (H.R. ... Bukhari).
Nurani atau dorongan cahaya kebaikan, itu mampu menembus sekat perbedaan, sekat batasan yang sengaja dibuat manusia dalam status sosialnya, sehingga pantas nabi menginginkan Islam bisa tampil sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin, yang sesungguhnya, sebagai agama yang benar dalam mengedepankan hal nurani, keberempatian, dan adanya cinta kasih di dalamnya.
Lantas ada umat yang so merasa agamanya paling benar?
Ini sesungguhnya bagaimana ?
Coba tanya Nuraninya ?
Sampai dimana ia paham pada tugasnya sebagai manusia, untuk menjadi manusia yang  bermanfaat!!
Apa pantas ia lalu terus mengumumkan itu  kemana mana!!
Dengan terus berpropaganda, bahwa ia paling beriman dengan agama yang ia bawa, ia anggap yang paling benar !
Apakah hal ini santun ?
Apakah itu tidak salah kaprah, kepedean !
Sebaiknya kita kembali ke dalam nurani untuk bisa menjawab klaim kita itu !
Tidak kekanak-kanakan, dalam mempropagandakan hal yang justru mampu mempermalukan diri, dan agama kita.
Apalagi untuk meyakinkan orang lain, kita sampai harus berorasi dengan penuh emosi, luapan nafsu, dalam setiap mimbar dimana kita berkesempatan berdakwah.
Ingat kita memiliki rambu dalam beragama
yakni di Al Qur'an,surat Al Kafirun, ayat 6 ;
Lakum dīnukum wa liya dīn
Artinya: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.
Itulah rambu kita sebagai bekal dalam bermuamalah dengan sesama manusia.
Tidak memaksakan orang untuk meyakini keyakinan kita, apalagi dengan cara intimidasi lewat pernyataan dalam dakwah yang disampaikan, seperti kita telah menjadi manusia suci, yang lupa diri.
Jika dakwah kita keras, menghujam, tidak dengan kelembutan dan tidak disampaikan dengan hikmah, maka perbuatan itu jauh dari menggambarkan kita sebagai mahluk berakal, dan beradab.
Tidak seperti itu Nabi mengajarkan kita cara berdakwah.
Yang beliau lakukan adalah dakwah dengan perbuatan, perilaku, dan ketika di sampaikan dengan lisan, lewat pernyataan, beliau bicara penuh kesopan santunan, kelembutan, Hikmah, bahkan malah tak bicara sama sekali, dan menjauhkan dirinya dari mengumbar emosi yang berlebihan, yang tidak perlu, hanya sekedar untuk menunjukan kwalitas kesucian, yang bagi Allah itu tak diperlukan.
Lihat riwayat, saat Nabi belasan tahun menyuapi seorang buta, yang ia membenci Muhammad, padahal Nabi sendiri menyuapinya setiap hari dengan penuh kasih sayang, dengan kelembutan, sehingga setelah ketiadaan Nabi, dan hal itu dilanjutkan sayidina Umar, lelaki tua yang buta itu protes, ia merasa bukan di suapi oleh orang yang sama, yang setiap hari menyuapinya.
Hingga ia tahu, selama ini ternyata yang menyuapinya adalah Nabi sendiri, yang setiap kali Nabi datang dan menyuapinya, si lelaki buta itu meracau menghina Muhammad yang ia benci setengah mati.
Setelah ia tahu, ia pun menyesal, dan menyatakan ke imanannya pada Agama yang benar...Alhamdulillah.
Yaa kita harus bijak dalam menyampaikan dakwah kita.
Belum bijak dan belum sampai iman kita dalam mengagungkan agama Allah, ketika masih berpikir arogan pada keyakinan lain.
itu seperti layaknya anak kecil, yang egonya besar, dan tak mau kalah.
Sayidina Ali, sebagaimana yang dikatakan Nabi,
 " Anaa madiinatul "ilm wa "aliyu babuha " ( Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya)
Adalah seorang yang sangat alim, berilmu tinggi, dan khatam pada soal keyakinan jauh diatas manusia manusia seperti kita,  tidak pernah sama sekali, menyombongkan agamanya, dan keimanannya.
Bahkan dalam ucapannya yang paling masyhur, menginggatkan kita pada satu pokok persoalan besar, bahwa manusia itu setara kedudukannya  dan kehormatannya.
Ali Bin Abi Thalib menginggatkan," Jika Dia Bukan Saudaramu Seagama, Dia Saudaramu Dalam Kemanusiaan."
Nah itulah ...!!
Puncak pemahaman, puncak keimanan, puncak Nurani, puncak cahaya Illahi yang akhirnya membuat ia, menjadi manusia yang di inginkan Allah sebagai khalifah untuk semesta.
Jadi kebaikan kita, untuk agama ini, ada pada kita memiliki dan mengedepankan Nurani.
Pengumumankan, dan berpropaganda itu tak berarti, akan banyak yang tersakiti, dan malah akan timbul perselisihan, bahkan tumbah peperangan karena adanya  sikap, kekanak-kanakan, kita  mengadang-ngadang kehebatan agamanya !
Makanya Allah tandaskan persoalan berbedaan keyakinan itu, kedalam ranah kita sendiri.
Ini untuk menjaga  ukhuwah kebersamaan sebagai manusia dalam kehidupan, agar tidak terjadi pertentangan yang meruncing.
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Yang di minta hebat dari agamamu, oleh Allah yaitu dirimu, terdidik menjadi manusia bermanfaat, manusia yang tidak picik, manusia yang mengedepankan akal sehat, dan dapat mengisi ceruk sisi kemanusian sehebat yang kau bisa perbuat.
Kalimat nasehat guru bangsa kita Mbah Gus Dur perlu diingat...
Tidak penting apa pun agama atau sukumu ... Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu ...".***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.