REFLEKSI| Cara Dakwah Nabi Adalah Berinteraksi
Ini sesuai dengan riwayat ‘Aisyah yang mengatakan, “Rasulullah SAW tidak berbicara cepat sebagaimana bicara kalian ini. Namun beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas, hingga orang yang duduk bersama beliau dapat menghafalnya.” (HR. Tirmidzi)
Nabi, sering mengulang bicara sebanyak tiga kali, agar bisa dipahami. Ini sesuai dengan penuturan Anas bin Mali Ra., “Rasulullah SAW suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.” (HR. Tirmidzi)
Nabi, membuka dan menutup perkataannya dengan bismillah. Dengan bismillah, setiap pembicaraan yang awalnya hanya bernilai dunia, jadi lebih bermakna akhirnya, karena bernilai akhirat.
Nabi, berbicara dengan kalimat singkat yang padat maknanya. Dalam istilah hadits disebut “Jawāmi’ul-Kalim” (kata singkat tapi padat makna).
Nabi, rinci dan pas dalam menjelaskan. Ini sesuai dengan hadits beliau, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ketika meninggalkannya apa yang tidak bermanfaat baginya.” Termasuk dalam berbicara. Pada riwayat ini dijelaskan, beliau lebih banyak berpikir dan irit bicara kalau tidak perlu.
Nabi, tidak kasar (lemah lembut) dalam berbicara.
Nabi, tidak berkata yang penuh celaan pada kalimat dalam bicaranya.
Pada riwayat lain misalnya, kalau terpaksa harus menegur biasanya Nabi menggunakan kata-kata sindiran, siloka, yang sifatnya tidak menyakiti lawan bicaranya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!