REFLEKSI | Belajar Melampaui Proses
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
SETIAP manusia dihadirkan dalam perjalanan hidupnya dengan proses yang terus mendorongnya menjadi individu yang matang, berpandangan luas, bijak dan dewasa. Seperti itu pulalah, di dalam Al-Qur'an banyak pengkisahan yang diceritakan, agar mereka yang membaca, menelaah, mendapat suatu pembelajaran dari kejadian yang dikisahkan dalam kitab suci kita.
Apa yang membuat kita jadi pintar, cerdas, dan berpengalaman ?
Yang membuat kita menjadi pintar, cerdas, berpengalaman seperti apa yang semua harapkan, adalah hasil tempaan sebuah proses, yang dari proses tersebut, menjadi ilmu, menjadi pengetahuan, di mana akhirnya ilmu, pengalaman yang tertuliskan itu, bisa kita pelajari, dan ketika kita menjalankannya, kita mampu menerapkan hal ideal yang baik untuk dirasakan oleh semuanya.
Setiap manusia memiliki keinginan untuk mendapatkan keselamatan kehidupan baik di dunia maupun di akhiratnya, dan agar ia bisa seperti apa yang diinginkannya, maka jalan menuju proses pemahaman harus didapatkan oleh kita dengan langsung masuk pada situasi-situasi yang Allah takdirkan.
Menghadapi takdir dengan penuh keikhlasan, menjalaninya dengan penuh keteguhan prinsip dan kekuatan iman, masuk kedalam prosesNya dengan banyak rasa syukur, dan mantafakuri setiap kejadiannya, merupakan bentuk salah satu keawasan kita menyikapi suatu pembelajaran hidup.
Belajar melampaui proses, adalah kita mau bersabar dengan sepenuh keikhlasan pada apa yang tengah menimpa kita.
Belajar berikhlas berarti belajar menerima keadaan apapun yang kita rasakan, pahit getirnya, terlukai, dicampakkan, diremehkan, biarkan saja itu untuk mendera kita, kita tak kuasa apa-apa merubahnya.
Hal ini terjadi, sebab memang Allah tengah memposisikan kita di keadaan yang membuat kita rendah di hadapan manusia, namun, upaya kita sebagai seorang hamba adalah, kita harus membangkitkan aspek ruhiah spiritual kita, agar aspek ruhani kita bisa hidup, bisa kuat, mampu bergerak mendekatiNya, sehingga akhirnya bisa meraih cintanya.
Dalam keadaan terpuruk orang biasanya ingat pada Tuhannya. Dalam keadaan senang malah lupa pada penciptanya ! Nah kondisi mana yang terbaik dari kedua itu, jika proses kita tengah di hadapkan pada ujian Allah ini ?
Kesadaran merupakan sikap terbaik kita menghadapi situasi yang Allah sedang ujikan pada kita. kesadaran, dan kesabaran merupakan kekuatan manusia yang paling utama.
Proses merupakan sebuah gemblengan, kita di didik dengan merasakan langsung suatu situasi yang akan membuat kita sadar, bahwa dalam situasi apapun yang kita alami, rasa syukur kita tidak boleh hilang dari pribadi seorang yang beriman.
Hal tersebut untuk memberi sinyal pada yang maha kuasa, bahwa ia atau kita, adalah seorang hambanya yang tidak akan meninggalkan ketaqwaannya.
Maka lewatilah setiap proses dengan keimanan, dan ketawakalan.
Insyaallah, setiap proses bagi mereka yang beriman, ibarat hati kita sedang di asah kemilaunya. Bagi mereka yang bisa melewati tempaan, dan asahan yang Allah ujikan, ada kebaikan yang akan kita dapatkan !
Lantas apakah kebaikan yang akan kita dapatkan itu ?
Bila saja ujian Allah itu mampu kita jalani, dan lewati, kita akan menjadi sosok manusia tangguh, menjadi kesatrianya Allah yang gagah perkasa.
Kita masuk menjadi Insan Kamil, manusia dengan karakter dan sifat sempurna, yang matang dalam semua hal, Ibn al-'Arabi mengungkapkan, bahwa puncak kemuliaan manusia sesuai dengan hadis 'takhallqu' bi akhlaq Allah,' adalah berakhlak dengan akhlak Allah...
Alhamdulillah, semoga kita bisa meneladani akhlak yang Allah miliki, setidaknya sifat rahman dan rahimnya melandasi dan menghiasi perikemanusiaan kita, sehingga damailah kehidupan kita di dunia ini, dan selamatlah kita dalam membekali diri, menuju kehidupan kita yang bahagia yang kita bawa ke alam akherat kita kelak, aamiin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!