Reclaiming the Space: Menjaga Universitas sebagai Pilar Demokrasi di Asia Tenggara
Assoc. Prof. Khoo Ying Hooi, moderator plenary kedua dan anggota pendiri SEACAF, mengungkapkan, “Meskipun ruang untuk kebebasan akademik semakin sempit, kawasan ini terus menyaksikan keberanian luar biasa dari pendidik dan mahasiswa yang menolak menyerahkan ruang kelas pada ketakutan.” Ia juga menambahkan, “Tindakan mereka mengingatkan kita bahwa merebut kembali ruang bukan hanya soal perlindungan, tetapi tentang menciptakan ruang baru untuk dialog, pengetahuan, dan solidaritas.”
Tujuan utama dari konferensi ini adalah untuk memperdalam kolaborasi regional dalam mempelajari dan mempertahankan kebebasan akademik. Konferensi ini mengundang para akademisi, peneliti, dan aktivis untuk memeriksa bagaimana ruang akademik dibentuk, ditantang, dan direbut kembali di seluruh Asia Tenggara. Dengan mengumpulkan berbagai perspektif dan wawasan empiris, konferensi ini berfungsi sebagai platform untuk mengidentifikasi area riset baru, membentuk agenda riset masa depan, dan memperluas pemahaman tentang kebebasan akademik dari perspektif politik, sosial, budaya, hukum, dan institusional.
Sebagai bagian dari acara konferensi, SEACAF juga mengadakan workshop “Youth Rising Creative Workshop” beberapa hari sebelum acara utama. Workshop ini dirancang untuk memberikan ruang partisipatif bagi para akademisi muda, seniman, dan aktivis di seluruh kawasan untuk mengungkapkan suara mereka. Melalui storytelling, seni visual, dan media digital, peserta mengeksplorasi bagaimana ekspresi kreatif dapat menjadi bentuk perlawanan dan dialog dalam merebut kembali ruang akademik dan sipil.
Konferensi ini menjadi pengingat pentingnya mempertahankan kebebasan akademik dan ruang intelektual sebagai fondasi demokrasi. Dalam waktu di mana berbicara kebenaran bisa berbahaya dan diam sering kali dihargai, “Reclaiming the Space” mengajak para akademisi, mahasiswa, dan sekutu di Asia Tenggara untuk bersatu dalam membela kebebasan intelektual. Kegiatan ini bukan hanya sekadar refleksi atas situasi saat ini, tetapi juga sebuah seruan untuk bertindak dan melindungi ruang-ruang demokrasi yang semakin terancam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!