Ranny Fahd Soroti Target Sektor Informal hingga Transparansi Data BPJS Ketenagakerjaan
Ranny juga mengkritik paparan BPJS Ketenagakerjaan yang dinilai belum menyertakan baseline data dan target kuantitatif, khususnya terkait cakupan kepesertaan hingga tahun 2031.
Ia menilai transparansi data menjadi kunci dalam pengawasan dan evaluasi kinerja lembaga. Masalah lain yang disoroti adalah tingginya potensi drop out peserta. Ranny mempertanyakan jumlah peserta non aktif saat ini serta tingkat retention rate yang menjadi dasar strategi reaktivasi peserta.
“Apakah masalah utamanya ekspansi atau justru tingginya peserta yang keluar?†ujarnya.
Dalam aspek digitalisasi, Ranny menilai masih adanya persoalan klasik seperti data ganda dan ketidaksesuaian nomor identitas. Ia meminta penjelasan terkait persentase data peserta yang telah tervalidasi penuh serta efektivitas transformasi digital yang dilakukan.
Ranny juga menyinggung strategi investasi BPJS Ketenagakerjaan, khususnya penggunaan instrumen alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia meminta jaminan bahwa langkah tersebut tidak meningkatkan risiko terhadap dana pekerja, serta meminta data real return dibanding inflasi dalam lima tahun terakhir.
Terakhir, ia menyoroti tingginya pelanggaran kepatuhan perusahaan. Ranny meminta data persentase perusahaan yang belum patuh serta jumlah yang telah dikenai sanksi.
Menurutnya, sistem pengawasan perlu dievaluasi apakah benar efektif atau hanya kuat secara desain namun lemah dalam implementasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!