Rakernas Indonesia Marketing Association (IMA) 2022, Membangun Kreativitas dan Inovasi di Tahun Endemi
Melalui acara ini, IMA mengharapkan Rakernas akan memberikan output pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat, baik dari segi keilmuan ataupun pemasaran praktis – yang nantinya pemikiran tersebut dapat memberikan ide-ide kreatif, juga inovatif sebagai bentuk kontribusi terhadap strategi bisnis sebagai upaya mengakselerasi percepatan perekonomian pasca Covid-19.
Menurut Lina, banyak hal yang menarik dalam Rakernas IMA di tahun 2022 ini. Salah satunya adalah banyak sekali rangkaian acara yang bisa digunakan peserta untuk saling bertukar pikiran terkait dunia marketing, selain itu, acara ini juga banyak dihadiri oleh akademis dan pakar-pakar di bidang pemasaran baik taraf lokal maupun nasional.
“Rakernas IMA yang dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta dari 75 chapter se-Indonesia ini memiliki serangkaian kegiatan yang sangat padat. Diawali dengan Studium Generale (SG) dengan Tema BUMN 2030: 10 Great Cases By Mark Plus, dengan pembicara Hermawan Kartajaya yang merupakan Honorary Founding Chairman IMA juga Pakar Marketing Indonesia. Dilanjut dengan Prof. Philip Kotler yang merupakan The Father of Modern Marketing. Setelah acara SG, masih di hari yang sama akan ada Company Visit Industry ke PT. Telkom lalu keesokan harinya tanggal 28 Mei 2022 adalah Rapat kerja Nasional”, tambah Lina.
Lebih lanjut, Lina berharap bahwa adanya acara Rakernas IMA 2022 ini bisa dimanfaatkan oleh para praktisi marketing di Kota Bandung untuk dapat menumbuhkan lagi ide-ide pengembangan perekonomian serta bisnis di Kota Bandung.
Menyeimbangkan Profitability dengan Sustainability: Prof. Kotler Prof. Philip Kotler dalam paparannya di acara SG, bertajuk “The Future of Marketing in 2031.”menyampaikan seruan untuk menyeimbangkan profitability perusahaan dengan Sustainability. Seruan ini diwujudkan dengan menerapkan prinsip-prinsip degrowth economy, baik di level perusahaan maupun segenap pemasar di berbagai belahan dunia.
“Saya rasa fork model dari Buckminster Fuller memberikan gambaran yang baik mengenai situasi bisnis saat ini, dimana kita telah melewati persimpangan dan masih belum terlambat untuk memutuskan dengan lebih bijak. Apakah kedepannya kita akan tetap melaju dengan prinsip kerja bisnis yang sama seperti sekarang, hingga kita tiba di titik point of no return, atau sebaiknya kita melihat ke belakang, mempertimbangkan backtrack ataupun melakukan lompatan besar untuk menuju situasi masyarakat yang ideal”.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!