Polda DIY, DPKH, dan Dinkes Gunungkidul Gelar Vaksinasi dan Penyuluhan Hewan Ternak
Polda DIY selama ini berkoordinasi dengan instansi terkait/Organisasi Perangkat Daerah (OPD) maupun para peternak untuk mengawasi lalu lintas keluar masuknya hewan ternak di DIY, terutama di Gunungkidul. Khususnya di Kapanewon Ponjong sebagai pintu masuk yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng). "Tujuannya untuk memantau kesehatan bibit hewan ternak yang masuk DIY," ucapnya.
Lebih lanjut, drh. Retno menjelaskan bahwa sosialisasi Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) pada ternak penting untuk disampaikan kepada peternak. Pada kesempatan ini, UPT. Puskeswan Karangmojo juga telah melakukan vaksinasi seperti Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Vitamin B-Plex, Anti Nyeri dan Demam, serta Obat Cacing di kandang milik kelompok peternak sapi di Jaten Ponjong. Untuk Vaksin Antraks, diberikan setiap enam bulan sekali hanya di daerah yang menjadi zona merah antraks.
Sidig Hery Sukoco menyampaikan bahwa tradisi brandu/purak merupakan kebiasaan masyarakat Gunungkidul yang menyembelih daging hewan ternak yang sudah mati atau terlihat sakit, kemudian membagikannya ke tetangga untuk dikonsumsi. Tradisi ini sebenarnya bertujuan baik karena ingin membantu warga yang kehilangan ternaknya agar tidak mengalami kerugian besar. Namun, tradisi ini berisiko membahayakan kesehatan warga karena daging ternak yang sakit atau mati tersebut mengandung bakteri bacillus anthracis yang dapat menyebabkan antraks.
"Spora yang dihasilkan oleh bakteri antraks dapat hidup selama 40-80 tahun di dalam tanah dan mampu bertahan dalam suhu berapapun sehingga tetap berbahaya walaupun telah dimasak atau direbus," ungkap Sidig.
Menurut Sidig, setiap tahunnya di Gunungkidul selalu ditemukan kasus antraks pada manusia, yang didominasi oleh gejala lesi (kerusakan) kulit.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!