Persib Bandung: Dari Perserikatan ke Liga, Dari Radio Butut ke Live Streaming

ED
Minggu, 25 Mei 2025 | 06:58 WIB
Bagikan
Persib Bandung: Dari Perserikatan ke Liga, Dari Radio Butut ke Live Streaming

Namun setelah itu, jalan tidak selalu mulus. Liga berubah nama, struktur berubah, sponsor berganti, tapi bobotoh tetap setia. Di era Liga Super Indonesia (ISL) pun, Persib sempat paceklik gelar hingga akhirnya menjuarai musim 2014. Saat itu, gol dramatis Konate Makan dan Ferdinand Sinaga membuat warga Bandung menangis bahagia. Itu malam minggu paling meriah, meski hujan turun sepanjang malam.

Sekarang di Liga 1, tantangannya berbeda. Klub-klub sudah jadi korporasi. Persib kini dikelola PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), dan masuk ke dalam dunia sepak bola modern dengan segala tuntutan profesionalismenya. Pemain asing silih berganti datang. Ada yang jadi legenda, ada juga yang cuma numpang selfie di Gedung Sate.

Tapi satu hal yang tetap: antusiasme bobotoh. Dulu digalang melalui radio transistor 9 band, kini melalui media sosial. Data dari Nielsen Sports menunjukkan, Persib selalu masuk tiga besar klub dengan jumlah penonton terbanyak di stadion maupun layar kaca. Di media sosial Instgram Persib kini punya lebih dari 8,5 juta pengikut, Tik Tok dengan 5,4 juta pengikut dan Youtub 2,17 juta subscriber mengalahkan beberapa klub Eropa kelas menengah.

Tak hanya itu, kontribusi Persib pada Timnas juga konsisten. Pemain-pemain seperti Henhen Herdiana, Febri Hariyadi, Zola dan Beckham Putra adalah produk asli Bandung yang naik kelas nasional. Ini menunjukkan bahwa akar pembinaan usia muda masih hidup, walau kadang harus bersaing dengan instan-transfer dari luar negeri.

Di sisi lain, kehadiran teknologi juga mengubah cara bobotoh mendukung tim. Kalau dulu ngumpul di depan radio, sekarang cukup buka YouTube atau aplikasi streaming. Tapi sensasinya tetap sama: tegang saat penalti, teriak saat gol, dan sumpah serapah saat lini belakang bikin jantung hampir copot.

Loyalitas bobotoh juga menjelma dalam berbagai bentuk: dari koreo stadion hingga spanduk protes soal performa tim. Ini menunjukkan bahwa cinta bobotoh bukan cinta buta. Mereka cinta, tapi juga kritis. Kalau tim lagi jelek, ya tetap didukung, tapi dengan kritik pedas.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.