Persib Bandung: Dari Perserikatan ke Liga, Dari Radio Butut ke Live Streaming

ED
Minggu, 25 Mei 2025 | 06:58 WIB
Bagikan
Persib Bandung: Dari Perserikatan ke Liga, Dari Radio Butut ke Live Streaming

VISI.NEWS | BANDUNG - Dulu, nonton Persib itu bukan urusan gampang. Generasi 80-an dan 90-an pasti masih ingat, suara Kemal Pramayuda, Pujo Hastowo di Radio Republik Indonesia (RRI) lebih dinanti daripada suara guru di kelas. Kalau Persib main tandang, satu RT bisa ngumpul di rumah yang punya radio butut—asal masih bisa nangkep gelombang AM. Saking dramatisnya, kadang komentator bilang: "Adeng mengoper ke Dede...langsung ke Ajat Sudrahar dan... gol... ah melenceng saudara-saudara!"

Tapi jangan salah, sejak zaman itulah Persib sudah jadi klub yang bukan sekadar klub. Ia adalah identitas, kebanggaan, bahkan sumber inspirasi. Entah kenapa, klub satu ini selalu berhasil membuat bobotoh jatuh hati, meski kadang harus patah hati juga.

Secara historis, Persib memang punya akar kuat. Berdiri tahun 1933, hasil penggabungan beberapa klub di Bandung, seperti Bandoengsche Voetbal Bond dan National Voetbal Bond. Saat PSSI berdiri 1930, Persib termasuk penggagas awal. Jadi, kalau ada yang bilang Persib cuma jago kandang, coba tanya sejarah dulu.

Era perserikatan adalah masa-masa keemasan romantisme sepak bola Indonesia. Klub bukan milik konglomerat, tapi milik rakyat. Setiap kali Persib meraih prestasi, spontan sumbangan mengalir dari masyarakat kepada para pemain Persib. Para pedagang ada yang menggratiskan dagangannya, ada yang menyumbang uang dan dukungan lainnya. Nama-nama reporter yang biasa meliput Persib seperti Yoyo S. Adiredja dan Agus Ardjito rajin memberitakan Persib lewat media Pikiran Rakyat. Begitu juga Boedi Azwar dan Ahmad Zall dari Koran Gala juga tidak kalah semangat. Lewat pena dan jepretan kamera mereka, laga Persib yang disaksikan hanya ratusan orang di stadion bisa terasa seperti pertandingan final Piala Dunia. Dalam buku Persib Juara, karya Endan Suhendra, semangat ini diabadikan sebagai bagian dari kultur bobotoh dan media yang tidak bisa dipisahkan.

Masuk ke era Liga Indonesia tahun 1994, Persib langsung tancap gas. Di musim perdana Liga Indonesia yang menggabungkan Perserikatan dan Galatama, Persib keluar sebagai juara. Dengan pemain legendaris seperti Sutiono Lamso, Yusuf Bachtiar, Robby Darwis, dan Ajat Sudrajat, Maung Bandung menunjukkan taringnya di kancah nasional.

Namun setelah itu, jalan tidak selalu mulus. Liga berubah nama, struktur berubah, sponsor berganti, tapi bobotoh tetap setia. Di era Liga Super Indonesia (ISL) pun, Persib sempat paceklik gelar hingga akhirnya menjuarai musim 2014. Saat itu, gol dramatis Konate Makan dan Ferdinand Sinaga membuat warga Bandung menangis bahagia. Itu malam minggu paling meriah, meski hujan turun sepanjang malam.

Sekarang di Liga 1, tantangannya berbeda. Klub-klub sudah jadi korporasi. Persib kini dikelola PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), dan masuk ke dalam dunia sepak bola modern dengan segala tuntutan profesionalismenya. Pemain asing silih berganti datang. Ada yang jadi legenda, ada juga yang cuma numpang selfie di Gedung Sate.

Tapi satu hal yang tetap: antusiasme bobotoh. Dulu digalang melalui radio transistor 9 band, kini melalui media sosial. Data dari Nielsen Sports menunjukkan, Persib selalu masuk tiga besar klub dengan jumlah penonton terbanyak di stadion maupun layar kaca. Di media sosial Instgram Persib kini punya lebih dari 8,5 juta pengikut, Tik Tok dengan 5,4 juta pengikut dan Youtub 2,17 juta subscriber mengalahkan beberapa klub Eropa kelas menengah.

Tak hanya itu, kontribusi Persib pada Timnas juga konsisten. Pemain-pemain seperti Henhen Herdiana, Febri Hariyadi, Zola dan Beckham Putra adalah produk asli Bandung yang naik kelas nasional. Ini menunjukkan bahwa akar pembinaan usia muda masih hidup, walau kadang harus bersaing dengan instan-transfer dari luar negeri.

Di sisi lain, kehadiran teknologi juga mengubah cara bobotoh mendukung tim. Kalau dulu ngumpul di depan radio, sekarang cukup buka YouTube atau aplikasi streaming. Tapi sensasinya tetap sama: tegang saat penalti, teriak saat gol, dan sumpah serapah saat lini belakang bikin jantung hampir copot.

Loyalitas bobotoh juga menjelma dalam berbagai bentuk: dari koreo stadion hingga spanduk protes soal performa tim. Ini menunjukkan bahwa cinta bobotoh bukan cinta buta. Mereka cinta, tapi juga kritis. Kalau tim lagi jelek, ya tetap didukung, tapi dengan kritik pedas.

Kini, tantangan Persib bukan hanya memenangkan pertandingan, tapi juga menjaga relevansi sebagai simbol budaya Sunda dan semangat kolektivitas. Sebab Persib bukan hanya sekadar klub sepak bola, melainkan cermin masyarakat Bandung itu sendiri: keras kepala tapi romantis, idealis tapi pemaaf, kadang galak tapi cepat kangen.

Dan pada akhirnya, meski zaman berubah, meski dari Perserikatan sudah masuk ke Liga Profesional, satu yang harus diingat: Persib bukan milik siapa-siapa, tapi milik semua yang mencintai sepak bola jujur, loyalitas tanpa syarat, dan sejarah panjang yang tak akan pudar oleh waktu.

Dan bagi bobotoh sejati, jangan cuma ingat Persib waktu menang saja. Persib adalah perjalanan, bukan sekadar hasil akhir. Dari tribun ke layar HP, dari Ajat ke Beckham, dari Perserikatan ke Liga—cinta ini tak pernah berubah. Cinta yang, katanya, tak perlu alasan - mari kita rayakan sejenak kemenangan ini.

@m purnama alam

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.