IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Perjuangan Hak-hak Perempuan Malaysia Melalui Aktivisme Digital

ED
Selasa, 25 Juni 2024 | 06:22 WIB
Bagikan
Perjuangan Hak-hak Perempuan Malaysia Melalui Aktivisme Digital

Pelecehan online merupakan isu yang tersebar luas karena aktivis perempuan sering kali menjadi sasaran pelecehan, ancaman, dan penindasan maya (cyberbullying).

Misalnya, aktivis perempuan Malaysia menjadi target penindasan maya setelah Pawai Hari Perempuan tahun 2019. Aktivis yang angkat bicara mengenai isu-isu yang dianggap sensitif, tabu, atau menentang status quo mendapati diri mereka menjadi sasaran intimidasi dan doxing online.

Pada tahun 2024, penyelenggara Women's March dipanggil oleh polisi karena mengorganisir acara tersebut, sebuah tindakan yang dipandang sebagai bagian dari “siklus berulang” investigasi terhadap pertemuan damai.

Sensor pemerintah juga menimbulkan tantangan besar lainnya karena UU Penghasutan dan UU Komunikasi dan Multimedia sering kali digunakan untuk membungkam suara-suara yang berbeda pendapat.

Aktivis perempuan mungkin berisiko memposting konten yang dianggap berbahaya atau menghasut. Hal ini menciptakan iklim ketakutan dan mengarah pada sensor diri. Terlepas dari tantangan-tantangan ini, kebangkitan aktivisme digital oleh perempuan Malaysia menandai perubahan signifikan dalam lanskap sosial negara ini. Hal ini menunjukkan kekuatan platform online dalam memberdayakan perempuan untuk menantang status quo dan menuntut perubahan.

Seiring berkembangnya ruang digital Malaysia, tren ini kemungkinan besar akan memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk masa depan negara tersebut.***

  • Rabi'ah Aminudin adalah Associate Professor di Departemen Ilmu Politik, Universitas Islam Internasional Malaysia. Ia terutama mengkaji peran identitas dan politik dalam kebijakan publik.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.