Perempuan Inovasi 2024: Perluas Program, Tingkatkan Inklusivitas ke Peserta Didik Vokasi
Dian Sastrowardoyo, Founder Yayasan Dian Sastrowardoyo menambahkan, "Pendidikan vokasi membekali peserta didik dengan skill praktikal dan pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya. Sehingga, lulusannya dapat menjadi talenta siap kerja dan bersaing secara global karena sejak sekolah sudah fokus dengan pengembangan keterampilan dan teknologi adaptif. Dengan berbagai terapan disiplin yang dimiliki oleh anak-anak vokasi ditambah dengan pelatihan keterampilan abad 21 yang diberikan dari program Perempuan Inovasi dapat menjadi bekal yang lebih matang untuk menghadapi tantangan dan persaingan secara nasional maupun global untuk mendapatkan pekerjaan maupun memulai bisnis sendiri."
Sesi Talkshow Perempuan Inovasi 2024 Program Launch.jpg
(kiri-kanan: Amanda Simandjuntak, Co-founder & CEO Markoding, Dr. Ir. Kiki Yuliati M.Sc., Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek RI, dan Dian Sastrowardoyo, Founder Yayasan Dian Sastrowardoyo, di sesi talkshow Perempuan Inovasi 2024: Sinergi untuk Memajukan Perempuan di Bidang Teknologi)
Di sisi lain, Indonesia sedang menikmati bonus demografi, dimana sekitar 70 persen penduduknya berusia produktif. Kondisi ini menjadi tantangan untuk dapat memanfaatkan momentum bonus demografi ini dengan menyiapkan penduduk usia produktif menjadi sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghadapi akselerasi perkembangan teknologi yang pastinya akan berkonsekuensi pada struktur dan lapangan pekerjaan.
"Kehadiran revolusi industri keempat atau Revolusi Industri 4.0 dengan segala konsekuensinya tentu tidak dapat kita tolak. Semua negara pun sedang menghadapi pertumbuhan dan perombakan industri serta teknologi yang begitu cepat. Sayangnya masih ada stigma di masyarakat yang membuat peserta didik memilih jurusan berdasarkan pada gender dibandingkan pada minat dan bakat individu di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)." jelas Dr. Ir. Kiki Yulianti M. Sc., Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek RI.
Riset global McKinsey and Company memperkirakan 23 juta pekerjaan di Indonesia akan hilang akibat otomatisasi teknologi, akan tetapi McKinsey and Company yang memprediksi akan muncul 27-46 juta pekerjaan, dimana 10 juta diantaranya merupakan jenis baru. Dengan kondisi tersebut, Indonesia akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dengan kompetensi tinggi bidang teknologi agar siap bersaing secara global yang bahkan saat ini saingan kerjanya sudah bukan manusia saja tetapi juga dengan kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!