Penjelasan BMKG Soal Cuaca Panas di Indonesia, Jawa Barat Mencapai 38  ̊C

ED
Rabu, 4 Oktober 2023 | 09:39 WIB
Bagikan
Penjelasan BMKG Soal Cuaca Panas di Indonesia, Jawa Barat Mencapai 38  ̊C
VISI.NEWS | BANDUNG - Akhir-akhir ini beberapa wilayah di Indonesia mengalami fenomena suhu panas terik di siang hari. Suhu panas di siang hari terasa lebih panas dari suhu normal biasanya. Sebelumnya telah diketahui bahwa hal tersebut diakibatkan fenomena El Nino yang sedang terjadi. Fenomena tersebut mengakibatkan Indonesia mengalami kekeringan karena curah hujan yang rendah. Namun fenomena suhu panas yang cukup terik ini hanya terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, sedangkan wilayah lainnya bahkan mengalami hujan lebat. Hal ini menjadi perhatian BMKG untuk melakukan studi lanjutan. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu yang terukur di beberapa wilayah Indonesia pada periode tanggal 22-29 September 2023 mencapai kisaran suhu antara 35-38.0 ̊C pada siang hari. Daerah dengan suhu yang terukur mencapai 38.0  ̊C yakni pada tanggal 28 dan 29 September 2023 di Stasiun Klimatologi Semarang, Jawa Tengah dan pada tanggal 28 September 2023 di Stasiun Meteorologi Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Begitu pula dengan Wilayah Jabodetabek tepatnya di Tangerang Selatan yang mencapai suhu maksimum hingga 37.5  ̊C. BMKG menjelaskan beberapa kondisi dinamika atmosfer pemicu adanya fenomena suhu panas terik tersebut. Minimnya pertumbuhan awan pada siang hari Pada fenomena El Nino saat ini wilayah Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak kekeringan akibat curah hujan yang rendah. El Nino yaitu fenomena di mana angin pasat yang biasanya berhembus dari timur ke barat mengalami penurunan atau bahkan berbalik arah. Sehingga air hangat bergeser ke timur dan mengakibatkan penguapan, awan, serta hujan menjauh dari Indonesia. Akibat minimnya pertumbuhan awan di Indonesia maka sinar matahari yang sampai ke bumi tidak mengalami hambatan di atmosfer. Sehingga suhu pada siang hari jauh lebih terik. Posisi semu matahari menuju wilayah selatan ekuator Pada akhir September lalu, posisi matahari bergerak ke arah selatan ekuator. Hal tersebut mengakibatkan beberapa wilayah Indonesia di bagian selatan ekuator seperti Jawa dan Nusa Tenggara mendapatakan pemanasan sinar matahari yang lebih intens. Sehingga beberapa wilayah tersebut saat ini mengalami musim kemarau, sedangkan beberapa wilayah lainnya akan memasuki periode peralihan musim pada bulan Oktober-November. Faktor-faktor lainnya Fenomena ini tentunya tidak hanya diakibatkan oleh minimnya pertumbuhan awan dan pergerakan semu matahari, tapi juga didukung oleh faktor lain. Beberapa faktor lain di antaranya seperti kecepatan angin, tutupan awan, dan kelembapan udara. Ketiga faktor tersebut cukup berdampak besar terhadap fenomena suhu panas terik yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Imbawauan BMKG kepada masyarakat Fenomena suhu panas terik diperkirakan masih akan terjadi sampai bulan Oktober ini. Maka BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh. Terutama pada mereka yang berkegiatan di luar ruangan pada siang hari. Demi menjaga tidak terjadi dehidrasi, kelelahan, dan kondisi buruk pada tubuh. @wasti ms

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.