Pengurus DPC LPQQ Majalaya Dilantik, Komitmen Berantas Buta Aksara Alquran di Bandung
Ayi mengatakan, bahwa Lembaga Pembelajaran Qiro’atil Qur'an sebagai wadah organisasi para Muallim Al-Qur'an perlu mengepakan sayapnya menyeberluaskan gerakan ini melalui program pemberantasan buta aksara Al-Qur'an di Kabupaten Bandung umumnya dan di Majalaya Raya pada khususnya sebagai bentuk manifestasi dari kebangkitan umat Islam dimasa yang akan datang.
"Pelaksanaan TOT ini untuk mengetahui dan memahami Metode Ishlah dalam belajar cepat dan mudah membaca Al-Qur'an serta menyebarkannya kepada masyarakat secara luas," tuturnya.
Ayi mengatakan, kegiatan tersebut sebagai wahana konsolidasi antara pengurus LPQQ Majalaya Raya dengan para Muallim Al-Qur'an melalui Pembentukan Kelompok Belajar Membaca Al-Qur'an (KBMA).
Ayi menjelaskan, bahwa peserta pelatihan TOT Metode Ishlah ini berasal dari Kec. Ciparay, Kec. Majalaya, Kec. Solokanjeruk, Kec. Paseh, Kec. Ibun, Kec. Pacet, Kec. Baleendah, Kec. Pamengpeuk, Kec. Soreang, Kec. Pasir Jambu, Kec. Cikancung, Kec. Cicalengka dan sekitarnya "Kegiatan pelatihan ini dibiayai secara mandiri, swadaya dan dibantu oleh para pihak sebagai donotur, dermawan dan muhsinin yang peduli dan simpati terhadap perjuangan memuliakan Al-Quran melalui LPQQ," katanya.
Pelatihan TOT Metode Ishlah itu dibuka langsung secara resmi oleh Camat Majalaya selaku Ketua Dewan Pembina LPQQ Kecamatan Majalaya, Gugum Gumilar.
Sebelumnya diberitakan, gerakan nasional pengentasan buta aksara Al-Qur’an, merupakan upaya penting dan strategis dalam mewujudkan masyarakat muslim yang mampu membaca dan mencintai Al-Qur’an.
Untuk itu, Lembaga Pembelajaran Qiro'atil Qur’an menggaungkan gerakan nasional pengentasan buta aksara Al-Qur’an di Kabupaten Bandung.
“Kondisi Indonesia sangat memprihatinkan, menurut Menteri Agama Republik Indonesia pada MTQ Nasional tahun 2020, di Sumatera Barat. Beliau menyatakan, bahwa 62 persen atau sekitar 149 juta jiwa mayoritas muslim di Indonesia masih buta aksara Al Qur’an. Saya menduga ini merupakan fenomena gunung es, fakta yang sebenarnya jauh lebih besar dari prosentase itu," tutur Ayi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!