Pengunjung Tumpah Ruah Memadati Pasar Seni ITB 2025
Ketika acara hampir usai, seorang mahasiswa FSRD yang menjadi panitia menuturkan tantangan teknis: “Menata ratusan stan, mengatur alur pengunjung, memastikan fasilitas nyaman—itu kerja keras kita. Tapi melihat senyum pengunjung dan karya yang laku, semua lelah terasa berharga.”
Di penghujung acara, rektor kembali muncul di panggung utama untuk menutup acara. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga momentum: menjadikan Pasar Seni ITB bukan hanya peristiwa sekali jadi, melainkan ekosistem seni yang tumbuh setiap tahun. “Kita bersama‐sama menjaga agar ruang ini terus hidup,” katanya.
Saat lampu panggung padam dan pengunjung perlahan ramai meninggalkan kampus, udara malam Bandung membawa aroma cat, kopi, tawa, dan harapan. Pasar Seni ITB 2025 bukan hanya selesai—tetapi membuka babak baru: rumah seni yang terbuka, inklusif, dan merangkul siapa saja.
Semoga, pada tahun‐tahun mendatang, langkah kaki menuju jalan Ganesha kembali penuh—dan bukan hanya sekadar berjalan, tetapi juga menari bersama kreativitas.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!