Pengunjung Tumpah Ruah Memadati Pasar Seni ITB 2025

ED
Senin, 20 Oktober 2025 | 05:55 WIB
Bagikan
Pengunjung Tumpah Ruah Memadati Pasar Seni ITB 2025

Sementara itu, Widiyanti Putri Wardhana selaku Menteri Pariwisata Republik Indonesia, menilai Pasar Seni ITB sebagai salah satu ruang ekspresi seni yang ikonik dan berkelanjutan. “Acara ini menjadi ruang yang menghadirkan ekspresi dan kolaborasi lintas generasi. Pasar Seni ITB merupakan salah satu festival seni rupa dan desain paling ikonik di Indonesia yang terselenggara sejak tahun 1972,” ujarnya dalam wawancara singkat.

Salah satu momen yang menyita perhatian pengunjung adalah donasi lukisan oleh ibunda Menteri Pariwisata—lukisan berjudul *Sukulen*, terinspirasi dari tanaman sukulen yang tumbuh di batang pohon tua yang kering. Lukisan itu menjadi simbol keteguhan hidup di tengah waktu yang terus berjalan—sebuah pengingat bagi para seniman maupun publik bahwa kreativitas juga menyaksikan perjalanan waktu.

Festival ini bukan hanya tentang pameran dan stan. Di area Kids Corner, anak‐anak tampak asyik menggambar mural bersama komunitas kreatif, sementara di panggung utama musisi seperti Project Pop dan The Panas Dalam mengundang tepuk tangan riuh. Wahana interaktif seperti “Lorong Gorong” dan “Fossil Hunter” juga menjadi favorit pengunjung muda dan tua—semuanya menyatu dalam satu “pasar” yang hidup.

Melangkah keluar dari kawasan stan, kita melihat dampak ekonomi langsung: warung‐warung kaki lima penuh, penginapan di sekitar kampus ramai, kreator lokal menjual karya dengan antusias. ITB pun berhasil membawa energi lama—festival yang pertama kali digelar tahun 1972—kembali menjadi magnet kreatif di kota Bandung.

Ketika sore bergulir menjadi malam, lampu instalasi mulai menyala, bayangan panjang menari di dinding kampus, dan pengunjung mulai berkumpul di panggung utama. Ada cerita di setiap sudut: seniman muda berbagi proses, alumni berbincang sambil menyeruput kopi, komunitas berkumpul di bangku‐bangku terbuka. Rasanya seperti rumah besar yang kembali dihidupkan dengan tatapan penuh harapan.

Di satu pojok stan, seorang seniman muda berkata, “Di sini saya bertemu teman dari fakultas lain, warga Bandung yang tidak kuliah di ITB, bahkan anak SD ikut menggambar mural. Ini luar biasa.” Itu menggambarkan ruh acara—seni untuk semua, bukan eksklusif.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.