Pengguna Gmail Dihimbau Ganti Alamat Email untuk Tingkatkan Keamanan, Ini Alasannya
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 4 Januari 2025 | 20:40 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Google mengimbau pengguna Gmail untuk mengganti alamat email mereka mulai tahun ini, mengingat meningkatnya ancaman serangan siber yang semakin canggih. Gmail, sebagai platform email terbesar dengan 2,5 miliar pengguna, telah menjadi sasaran empuk bagi kejahatan siber, terutama yang berbasis kecerdasan buatan (AI). Baru-baru ini, laporan Forbes mengungkapkan serangan yang memanfaatkan notifikasi Google Calendar untuk mengeksploitasi Gmail.
McAfee, perusahaan keamanan siber terkemuka, memperingatkan bahwa penipuan kini menggunakan teknologi AI untuk menciptakan video dan rekaman audio palsu yang tampak sangat realistis. Penjahat siber dapat memanfaatkan teknologi deepfake untuk menipu pengguna hingga menyerahkan informasi pribadi.
"Penipu menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat video atau rekaman audio palsu yang sangat realistis yang berpura-pura menjadi konten asli dari orang sungguhan," McAfee memperingatkan, mengutip Forbes.
"Seiring dengan semakin mudahnya diakses dan terjangkaunya teknologi deepfake, bahkan orang-orang tanpa pengalaman sebelumnya pun dapat menghasilkan konten yang meyakinkan," tambah McAfee
Sam Mitrovic, seorang konsultan keamanan Microsoft, hampir menjadi korban serangan phishing canggih yang melibatkan penipu yang berpura-pura menjadi tim dukungan Google dengan detail yang meyakinkan.
"Hampir dapat dipastikan bahwa penyerang akan terus melakukan penyerangan hingga ke titik di mana apa yang disebut proses pemulihan akan dimulai," ucap Mitrovic.
Meski Google telah memblokir 99,9% email phishing dan malware, ancaman tetap ada. Google kini mengandalkan model AI untuk memperkuat pertahanan keamanan Gmail, namun McAfee menilai bahwa pendekatan ini masih belum cukup. Oleh karena itu, langkah drastis seperti mengganti alamat email dan menyembunyikan email dapat menjadi solusi untuk melindungi pengguna dari ancaman serangan berbasis email.
"Dengan lebih dari 2,5 miliar pengguna, kami saat ini menyebarkan model AI untuk memperkuat pertahanan keamanan di Gmail, termasuk menggunakan bahasa besar (LLM) baru yang dilatih untuk membasmi phising, malware, dan spam," ungkap Google. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!