Pengepul-Peternak Boyolali Buang 50 Ribu Liter Susu Sapi ke TPA Winong
Setelah dari monumen susu murni, mereka melanjutkan perjalanan menuju TPA sampah Winong untuk membuang susu yang tak terserap ke Industri Pengolahan Susu (IPS) tersebut.
Sriyono mengemukakan, pembatasan kuota masuk produk susu lokal di IPS itu berimbas pada banyaknya susu yang menumpuk di Usaha Dagang (UD) maupun Koperasi Unit Desa (KUD) persusuan yang tidak terserap oleh pabrik. Hal itu mengakibatkan banyak susu yang terbuang.
Sriyono menduga pembatasan kuota pabrik dari susu lokal ini dikarenakan faktor susu impor yang tidak ada batasan.
"Itu yang mengakibatkan kenapa susu saat ini banyak yang terbuang, karena yaitu ada pembatasan dari pabrik. Yang mana disinyalir kemarin-kemarin dengan alasan karena pasar yang lagi sepi. Tapi kami menduga bahwa ini ada faktor impor yang memang tidak ada batasan," duganya.
Karena, lanjut dia, produksi susu lokal Indonesia baru bisa mencukupi 20 persen kebutuhan susu secara nasional. Sedangkan 80 persen masih impor.
"Harusnya, meskipun pasar sesepi apapun, produksi lokal kita bisa terserap semua, seandainya pemerintah maupun industri itu memang mementingkan produksi dari susu lokal kita. Itu yang melandasi kenapa terjadi aksi pada siang hari ini, adalah bentuk protes kami," imbuh Sriyono yang juga pengurus KUD Mojosongo Boyolali ini.
Dikemukakan dia, jumlah susu yang dibuang hari ini mencapai sekitar 50 ribu liter atau 50 ton. Dengan asumsi per liter Rp 8.000, maka yang terbuang ini senilai sekitar Rp 400 juta.
Pembatasan kuota masuk susu lokal di IPS, sudah terjadi sekitar dua minggu terakhir. Per hari susu di Boyolali yang tidak terserap ke pabrik mencapai 30 ton.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!