Penculikan Maduro Jadi Preseden Berbahaya, Trump Tantang Hukum Internasional
VISI.NEWS | BANDUNG — Ketegangan diplomatik global meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengabaikan hukum internasional menyusul penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS. Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump pada Jumat, 9 Januari 2026, hanya beberapa hari setelah operasi militer singkat yang dilakukan Delta Force di Caracas, Venezuela.
Dalam wawancara dengan The New York Times yang dipublikasikan pada 9 Januari 2026, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak merasa terikat oleh norma hukum internasional dalam mengambil keputusan strategis. Menurut Trump, satu-satunya batasan atas tindakannya hanyalah penilaian moral pribadinya.
“Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Hanya itu yang bisa menghentikan saya,” kata Trump.
“Saya tidak butuh hukum internasional. Saya tidak berniat menyakiti orang lain,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu pekan lalu di Caracas yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Operasi itu digambarkan berlangsung cepat dan senyap, namun langsung menuai sorotan internasional karena dilakukan di wilayah kedaulatan negara lain tanpa persetujuan resmi.
Maduro pertama kali muncul di hadapan publik pada Senin, 6 Januari 2026, ketika ia dibawa ke Pengadilan Federal Manhattan, New York. Dengan tangan diborgol dan mengenakan pakaian tahanan biru-oranye, presiden Venezuela berusia 63 tahun itu langsung menyampaikan protes keras di ruang sidang.
“Saya presiden Republik Venezuela. Saya di sini diculik. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela,” ujar Maduro dalam bahasa Spanyol sebelum diterjemahkan, sesaat sebelum hakim menghentikan pernyataannya.
Hakim federal Alvin Hellerstein kemudian menegaskan bahwa sidang tersebut bukan forum untuk memperdebatkan cara penangkapan Maduro.
“Akan ada waktu dan tempat untuk membahas semua ini,” ujar Hellerstein.
“Saat ini, saya hanya ingin tahu satu hal: Apakah Anda Nicolás Maduro Moros?”
Maduro menjawab, “Saya Nicolás Maduro Moros,” sebelum hakim menjelaskan hak-haknya sebagai terdakwa di pengadilan Amerika Serikat.
Dalam dakwaan setebal 25 halaman yang dibuka pada Sabtu, 4 Januari 2026, jaksa federal AS menuduh Maduro dan Flores terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional selama lebih dari dua dekade. Keduanya didakwa bekerja sama dengan kartel narkoba untuk mengirim ribuan ton kokain ke Amerika Serikat sejak 1999 hingga 2025, serta dituduh terlibat dalam terorisme narkotika dan kepemilikan senjata ilegal.
“Maduro dan istrinya memerintahkan penculikan, pemukulan, dan pembunuhan terhadap orang-orang yang mengganggu operasi perdagangan narkoba mereka,” bunyi dakwaan tersebut.
Jika seluruh dakwaan terbukti, Maduro berpotensi menghadapi hukuman maksimal berupa hukuman mati. Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh tuduhan tersebut tidak berdasar.
“Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya adalah pria yang baik, presiden negara saya,” kata Maduro kepada wartawan usai persidangan singkat itu.
Kuasa hukum Maduro, Barry Pollack, yang dikenal sebagai pengacara pembebasan pendiri WikiLeaks Julian Assange pada 2024, mengisyaratkan bahwa tim pembela akan menggugat legalitas tindakan Amerika Serikat sejak awal penangkapan kliennya.
Kasus penculikan kepala negara asing dan penolakannya terhadap hukum internasional oleh Presiden AS kini menjadi sorotan dunia. Banyak pengamat menilai langkah tersebut dapat menjadi preseden berbahaya yang berpotensi mengubah tatanan hubungan internasional dan konsep kedaulatan negara di masa depan. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!