Pemkab Manggarai Timur Siapkan 60 Ton Beras untuk Korban Gempa
Warga berada di tenda posko pengungsian korban gemba bumi NTT./visi.news/antara.
VISI.NEWS - Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyiapkan 60 ton beras untuk membantu warga terdampak gempa bumi yang tersebar di 12 kecamatan.
Wakil Bupati Manggarai Timur, Tarsisius Syukur, mengatakan bantuan tersebut akan segera didistribusikan selama masa tanggap darurat pascagempa. Masing-masing kecamatan mendapatkan alokasi lima ton beras.
Bantuan itu nantinya disalurkan kepada warga terdampak yang berada di 176 desa dan kelurahan di Kabupaten Manggarai Timur.
“Saya sudah instruksikan kepada dinas terkait untuk segera mendistribusikan bantuan ini dalam situasi darurat pascagempa. Warga yang sangat terdampak harus menjadi prioritas. Saya juga membutuhkan data yang valid dari 12 kecamatan dan desa,” kata Syukur dalam keterangannya dikutp, Selasa (18/8/2026).
Syukur mengatakan sejumlah wilayah di Manggarai Timur mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa. Kondisi tersebut terutama terjadi di kawasan pesisir utara, termasuk Dampek dan Pota.
Selama dua hari terakhir, Syukur berada langsung di wilayah tersebut untuk memantau kondisi warga sekaligus perkembangan gempa susulan.
“Saya dua hari tidur di sana bersama warga sambil memantau perkembangan gempa susulan di wilayah tersebut. Banyak bangunan yang rusak. Pemerintah sangat serius menanggapi kondisi tanggap darurat ini,” ujarnya.
Pemerintah daerah akan terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap warga yang terdampak. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan dan membutuhkan kebutuhan pokok menjadi salah satu prioritas bantuan.
Pemerintah Provinsi NTT sebelumnya menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Status tersebut ditetapkan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi NTT.
Keputusan itu ditetapkan di Kupang pada 15 Agustus 2026, setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Pulau Flores pada hari yang sama.
Gempa tersebut berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT hingga Senin (17/8/2026), sebanyak 7.968 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.
Selain rumah warga, sebanyak 744 fasilitas umum dan infrastruktur juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa.
Pendataan terhadap dampak gempa masih berlangsung sehingga jumlah rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur yang terdampak masih dapat berubah setelah dilakukan verifikasi di lapangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!