Pemilu Bangladesh Buka Pintu Pengaruh Baru China di Tengah Merenggangnya Hubungan dengan India
Lailufar Yasmin dari Universitas Dhaka menuturkan, “Bangladesh membutuhkan China dan India, dan ini harus dilihat secara pragmatis.”
Ia menambahkan, “Walau hubungan dengan China bisa membaik, partai mana pun yang berkuasa tidak akan cukup ceroboh untuk mengabaikan India.”
Secara geografis, Bangladesh dikelilingi India di tiga sisi dan bergantung pada negara tetangganya itu untuk perdagangan, transit, serta kerja sama keamanan. Di sisi lain, New Delhi membutuhkan hubungan stabil dengan Dhaka untuk menjaga keamanan perbatasan daratnya. Data pemerintah menunjukkan perdagangan bilateral tetap stabil di kisaran 13,5 miliar dolar AS per tahun, meskipun hubungan politik memburuk.
Di dalam negeri, isu kedaulatan dan pengaruh asing menjadi tema kampanye yang kuat.
Dalam sebuah rapat umum, Tarique Rahman menegaskan, “Bukan Delhi, bukan Rawalpindi, Bangladesh di atas segalanya.”
Nada serupa datang dari generasi muda.
Nahid Islam, pemimpin Partai Warga Nasional yang didukung Gen Z, mengatakan, “Ini bukan sekadar retorika pemilu. Dominasi New Delhi sangat dirasakan oleh anak muda, dan itu menjadi salah satu isu utama dalam pemilu.”
Dengan latar belakang ini, pemilu Bangladesh bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan juga momen penting yang dapat menggeser arah poros geopolitik negara tersebut — di antara dua raksasa Asia yang sama-sama memiliki kepentingan besar di Dhaka. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!