Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia dari Tragedi di Stadion

ED
Sabtu, 17 Agustus 2024 | 16:40 WIB
Bagikan
Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia dari Tragedi di Stadion

Oleh Fajar Junaedi (360info)

MENJELANG peringatan dua tahun hari tergelap dalam sepak bola Indonesia, para pengelola sepak bola negeri ini masih bergulat dengan cara terbaik untuk mewujudkan reformasi berkelanjutan yang menjaga masa depan olahraga ini.

Pada 1 Oktober 2022, 135 orang tewas dalam pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya dalam tragedi Kanjuruhan, tercekik dalam kerumunan yang disebabkan oleh kekerasan antara dua kelompok pendukung yang bermusuhan.

Ketika kekerasan meletus di pertandingan sepak bola, yang disalahkan hanya para penggemar. Kenyataannya, kesalahan dimulai jauh sebelum pendukung pertama melompati pembatas atau melakukan pukulan.

Semua berawal dari panitia penyelenggara pertandingan, yang menjual lebih banyak tiket daripada kapasitas stadion mereka. Keadaan ini diperparah oleh pihak keamanan, yang terkadang lebih banyak memprovokasi daripada meredakan ketegangan. Hal ini terjadi karena polisi, yang terlalu mudah menggunakan gas air mata, dan operator kompetisi yang menggelar pertandingan tanpa mengatur langkah-langkah keamanan yang tepat.

Namun, hal itu tidak digubris oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, yang juga dikenal sebagai PSSI. Setelah tragedi Kanjuruhan, pemerintah Indonesia membentuk komite investigasi independen. Komite tersebut menemukan banyak kekurangan: tidak ada pengarahan keselamatan sebelum pertandingan di stadion, tidak ada rambu-rambu untuk membantu penonton jika terjadi keadaan darurat. Gerbang keamanan yang dirancang untuk membantu jika terjadi evakuasi bahkan tidak pernah disiapkan.

Pemerintah Indonesia tidak dapat secara langsung campur tangan dalam administrasi sepak bola negara tersebut, karena hal itu akan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan olahraga oleh FIFA, badan sepak bola dunia. Itu berarti yang terbaik yang dapat dilakukan komite adalah membuat rekomendasi dan berharap PSSI menanggapinya.

Apa yang harus diubah?

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.