Pelajaran untuk Sepak Bola Indonesia dari Tragedi di Stadion
Cara terbaik untuk mencegah tragedi lain di Liga 1 Indonesia adalah dengan memprioritaskan keselamatan daripada keuntungan dalam hal penjadwalan pertandingan.
Misalnya, pertandingan Kanjuruhan diadakan pada malam hari, yang konon dimaksudkan untuk membantu memaksimalkan rating televisi — meskipun pertandingan pada malam hari menimbulkan risiko keamanan yang lebih besar dan para penggemar klub memiliki rivalitas yang mendalam sebelumnya.
Untuk mencegah kekerasan penggemar, sepak bola di Indonesia perlu dimodernisasi. Itu dimulai dengan menempatkan klub sepak bola pada standar yang lebih tinggi.
Jika sebuah klub tidak mampu meningkatkan tata kelolanya, termasuk mengelola perilaku penggemarnya, para pengurus harus siap memberi sanksi kepada mereka — sanksi finansial, larangan masuk stadion, dan degradasi adalah hukuman yang dapat digunakan jika liga bersedia menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.
Demikian pula, jika PSSI tidak dapat meningkatkan tata kelolanya, kompetisi sepak bolanya harus dievaluasi.
Meskipun akhirnya tidak mengajukan tawaran untuk Piala Dunia FIFA 2034, hal itu tampaknya hampir terjadi — sebuah tanda bahwa negara itu ingin dianggap serius di panggung sepak bola dunia. Agar ini menjadi kenyataan, Indonesia perlu menjadi tempat yang aman untuk bermain dan menonton sepak bola.
Apa yang sedang dilakukan?
Sebagai penghargaan, PSSI telah memulai serangkaian reformasi untuk meningkatkan perilaku penggemar. Suporter tim tandang dilarang menghadiri pertandingan selama turnamen domestik, Piala Presiden 2024. Sejak tragedi Kanjuruhan, FIFA telah mengamanatkan Indonesia menjalani "masa transformasi" selama dua tahun untuk meningkatkan keamanan sepak bolanya, jika tidak, Indonesia akan menghadapi sanksi resmi dari badan pengatur olahraga tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!