Peatronics IoT Menjadi Inovasi Terbaik dalam Siak Innovation Challenge 2025

ED
Jumat, 21 November 2025 | 09:50 WIB
Bagikan
Peatronics IoT Menjadi Inovasi Terbaik dalam Siak Innovation Challenge 2025

VISI.NEWS | SIAK, RIAU - Sistem pemantauan tinggi muka air gambut berbasis Internet of Things (IoT), yang dinamakan Peatronics IoT, berhasil meraih penghargaan sebagai inovasi terbaik dalam ajang Siak Innovation Challenge 2025. Inovasi ini dikembangkan oleh tiga mahasiswa Politeknik Caltex Riau: Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti. Peatronics IoT bertujuan untuk membantu pemantauan dan pencegahan kebakaran gambut di Kabupaten Siak, yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lahan gambut.

Peatronics menggunakan sensor ketinggian air untuk memantau kondisi permukaan gambut dan mengirimkan data secara real-time melalui jaringan nirkabel LoRa. Jaringan ini dikenal hemat energi dan dapat menjangkau wilayah terpencil. Data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk status di web dashboard, yang memberikan informasi apakah kondisi gambut aman, waspada, atau kering. Sistem ini juga memberikan peringatan dini jika permukaan air turun di bawah batas aman, yang berisiko menimbulkan kebakaran.

"Teknologi ini dapat menjangkau area yang sangat jauh, dan cocok digunakan di wilayah terpencil. Peatronics membantu mencegah kebakaran, menjaga kelembaban gambut, serta meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat," ujar Aris Saputra Pasaribu . Aris menambahkan bahwa inovasi ini terinspirasi oleh kebutuhan mitigasi kebakaran setelah Kabupaten Siak mengalami kebakaran besar pada 2014, yang merusak lingkungan dan ekonomi daerah tersebut.

Kabupaten Siak memiliki 57% wilayah berupa lahan gambut, dan 21% di antaranya merupakan gambut dalam yang menyimpan cadangan karbon besar. Kondisi ini menjadikan pemantauan gambut sangat penting, tidak hanya untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan ekosistem gambut yang rentan terhadap kerusakan. Peatronics IoT diharapkan dapat menjadi alat penting dalam upaya pengelolaan gambut yang lebih baik.

Artika Azzarah Ahmad, salah satu pengembang Peatronics IoT, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya setelah timnya meraih penghargaan inovasi terbaik. "Saya sangat senang, alhamdulillah bisa mendapat penghargaan inovasi terbaik. Harapannya, penelitian awal ini bisa dilanjutkan dan digunakan untuk kebaikan bersama," katanya.

Siak Innovation Challenge 2025 merupakan bagian dari Festival Inovasi Lestari yang berlangsung pada 16–18 November 2025 di Gedung Kesenian Siak. Festival ini menyatukan berbagai kegiatan yang berfokus pada keberlanjutan, seperti eksibisi ramah gambut, pameran produk hilirisasi, pasar UMKM, talkshow, hingga pertunjukan seni. Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat perekonomian lokal dan mempercepat transformasi Siak menjadi kabupaten hijau yang tangguh dan berdaya saing.

Pada saat pengumuman pemenang, Budhi Yuwono, Kepala Bapperida Siak, memberikan apresiasi tinggi kepada para inovator muda. "Kami sangat menghargai semangat kreatifitas yang muncul dari generasi muda Siak. Ini adalah bagian dari upaya bersama untuk menciptakan bumi yang lebih lestari," ujarnya, memberi semangat untuk terus berkreasi demi masa depan yang lebih baik.

Tahun ini, Siak Innovation Challenge menerima 94 ide inovasi, dengan 20 tim terpilih mengikuti wawancara dan 10 tim mempresentasikan hasil pengembangan mereka di depan lebih dari 30 mitra yang berpotensi untuk mendukung kolaborasi lebih lanjut. Selain Peatronics IoT, dua inovasi lain juga meraih penghargaan terbaik, yakni Mangalo FortiRice, beras analog berbasis singkong yang difortifikasi dengan tepung bonggol pisang, serta Archiscape, yang mengusung konsep wisata aroma Siak dengan tema Harmoni Aroma Melayu.

Gerakan inovasi di Siak turut didorong oleh berbagai komunitas seperti Haha Hihi Media dan Exploresiak, yang selama lima tahun terakhir telah aktif dalam kegiatan bertema lingkungan, ekonomi kreatif, dan pendampingan UMKM. Mereka telah membantu banyak UMKM melalui rebranding dan digitalisasi, serta mendorong kesadaran tentang keberlanjutan. Selain itu, SKELAS (Sentra Kreatif Lestari Siak) juga menjadi pusat pengembangan UMKM yang telah mendampingi lebih dari 30 pelaku usaha.

Siak, dengan sejarah panjangnya sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, kini menghadapi tantangan besar dalam mengelola lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk membangun Siak yang lebih hijau dan berkelanjutan. Melalui ajang seperti Siak Innovation Challenge, harapan untuk menciptakan ekosistem inovasi yang mendukung keberlanjutan semakin nyata.

Inisiatif ini mengingatkan kita bahwa pembangunan yang berkelanjutan memerlukan peran serta semua pihak, dari individu hingga kelompok masyarakat. Dengan semangat kebersamaan yang tercermin dalam nilai budaya Melayu, Siak berupaya menciptakan masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan berdaya saing melalui kolaborasi dan inovasi yang saling mendukung.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.