PBSI Percepat Pelatihan Agar Pelatih Cabor Bulu Tangkis Bersertifikat BWF
"Namun perlu diingat, peranan pelatih adalah memberikan pembekalan kepada atlet. Dalam pembekalan itu, pelatih yang biasanya berasal dari mantan atlet jangan membawa paradigma masa lalu. Pelatih harus memberi pembekalan dengan latihan secara sistematis dan program yang bisa mengetahui tingkat keberhasilannya, kelemahan yang dilatih dan sebagainya," jelasnya.
Kepelatihan terhadap para pelatih, termasuk yang sudah bersertifikat BWF harus terus di update. Dia khawatir, kalau metoda pelatihan tidak di update para pelatih yang biasanya mantan atlet menggunakan filosofi saat dilatih dan pengalaman latihannya diterapkan kepada anak asuh yang dilatih
"Kalau menggunakan filosofi itu yang terjadi program latihan untuk orang dewasa diberikan kepada anak-anak pemula. Ini akan bisa berakibat fatal yang menimbulkan cedera pada anak-anak. Sehingga pelatih tidak membina yang dilatih tetapi memberi cedera," tandasnya.
Basri menambahkan, target pelatihan adalah para guru pendidikan jasmani untuk menarik para siswa SD. Setelah pembekalan kepada guru, pelatihan naik ke level 1 yang tingkatannya merupakan para pelatih di daerah dengan target pemain klub dan atlet pemusatan latihan tingkat cabang (Pelatcab) dan sebagainya.
Tahapan berikut adalah level 2, pesertanya para pelatih di tingkat Provinsi Jateng untuk mendapatkan pelatih terbaik, sambil menunggu program pusat membuka pelatihan level 3.
"Pelatihan di daerah sampai level 2 di tingkat provinsi untuk membuat daftar peringkat terbaik yang akan diikutkan dalam program pelatihan level 3 di PBSI pusat," tuturnya lagi. Dekan FKOR UNS, Dr. Sapta Kunta, yang mendampingi Basri Yusuf, menyatakan, FKOR mengadakan pelatihan BWF level 1 untuk percepatan dalam menghasilkan pelatih bulutangkis bersertifikat BWF.
Kerjasama FKOR dengan PBSI Jateng tersebut, merupakan tindak lanjut usulan Pengca PBSI Jateng ke pusat untuk menyelenggarakan program pelatihan BWF yang bersifat internasional.
"Alhamdulillah, program tersebut sinkron dengan UNS sebagai PTNBH yang dalam menjalin kerjasama bersifat internasional. Jumlah peserta 29 orang, dengan kriteria sudah aktif melatih dan persyaratan basis sudah memiliki anak asuh yang dilatih. Para peserta adalah mahasiswa yang sejak awal memilih peminatan Cabor bulutangkis dan para dosen luar biasa. Kelas para peserta sebagai pelatih cabor bulutangkis sudah di tingkat intermediate. Namun, meskipun mereka terampil melatih, kalau tidak dilengkapi ilmu kepelatihan yang terkualifikasi, dalam mentransfer materi latihan ke anak didik sering kurang tepat," jelas Dr. Kunta.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!