Pavithran Siap 200 Persen Hadapi Vietnam

ED
PN
Jumat, 14 Agustus 2026 | 05:45 WIB
Bagikan
Pavithran Siap 200 Persen Hadapi Vietnam

VISI.NEWSPenyerang sayap Malaysia, Pavithran Gunalan, menyadari timnya menghadapi tantangan berat saat berjumpa Vietnam pada leg pertama semifinal ASEAN Hyundai Cup 2026, Minggu. Pemain berusia 21 tahun itu menegaskan Malaysia harus tampil habis-habisan jika ingin menumbangkan Vietnam yang berstatus sebagai juara bertahan.

Pertandingan pertama semifinal tersebut akan berlangsung di Kuala Lumpur Football Stadium dan diperkirakan disaksikan penuh oleh pendukung tuan rumah. Setelah itu, Malaysia akan bertandang ke Hanoi untuk menjalani leg kedua pada Rabu pekan berikutnya.

Pavithran tidak menutup mata bahwa Vietnam lebih diunggulkan untuk melaju ke final. Tim berjuluk Golden Star Warriors itu berambisi mencapai partai puncak untuk ketiga kalinya secara beruntun. Namun, Pavithran menegaskan Malaysia tidak akan menyerah begitu saja.

"Melawan Vietnam, kami harus bekerja keras dan tampil habis-habisan. Jika kami tidak memberikan 100 persen atau menganggap remeh pertandingan, tidak ada peluang untuk menang. Mereka adalah tim yang sangat kuat. Jika mereka memberikan 100 persen, kami harus memberikan 200 persen untuk memenangkan pertandingan," kata Pavithran.

Kepercayaan diri Pavithran bukan tanpa alasan. Ia menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian pada edisi ke-16 turnamen yang dianggap sebagai salah satu ajang paling bergengsi dalam sepak bola Asia Tenggara tersebut.

Pavithran telah meraih dua penghargaan Hyundai Player of the Match berkat penampilan impresifnya bersama Malaysia. Ia juga menjadi penentu kemenangan Malaysia pada pertandingan terakhir Grup B ketika mencetak satu-satunya gol melalui sundulan saat menghadapi Filipina.

Gol tersebut sekaligus memastikan Malaysia kembali ke fase gugur setelah gagal lolos dari fase grup pada edisi 2024.

"Saya sangat senang mendapatkan penghargaan tersebut, terutama karena keluarga dan para penggemar hadir untuk mendukung kami. Menang di depan mereka merupakan perasaan yang luar biasa. Namun, jika melihat ke belakang, semua ini tidak akan terjadi tanpa rekan-rekan setim dan pelatih. Merekalah yang selalu memotivasi saya," ujar Pavithran.

Menurut dia, keberhasilan Malaysia melangkah jauh di turnamen kali ini tidak lepas dari kekompakan seluruh pemain serta kedisiplinan dalam menjalankan instruksi pelatih.

"Ini semua tentang kerja sama tim. Ketika pelatih memberikan instruksi, kami menjalankannya 100 persen. Tidak ada rasa puas diri dan tidak ada bermain-main. Disiplin itulah yang memungkinkan tim kami melangkah lebih jauh kali ini," katanya.

Menariknya, gol Pavithran ke gawang Filipina merupakan gol senior pertamanya untuk Malaysia sekaligus gol sundulan pertama sepanjang kariernya.

Ia mengaku pencapaian tersebut terasa unik karena sundulan bukan bagian yang menjadi kekuatannya sebagai pemain.

"Ini sebenarnya cerita yang agak lucu. Selama bertahun-tahun bermain sepak bola, saya tidak pernah mencetak gol dengan sundulan. Saya sudah pernah mencoba, tetapi tidak pernah masuk. Ini pertama kalinya saya mencetak gol dengan sundulan. Sejujurnya, saya bukan pemain yang suka menyundul bola, tetapi kali ini berhasil," tuturnya.

Perjalanan Pavithran menuju tim nasional Malaysia dimulai dari Taiping, sebuah kota di bagian utara Malaysia. Sejak kecil, ia terbiasa bermain sepak bola bersama ayah dan saudara-saudaranya di rumah.

Melihat kecintaan Pavithran terhadap sepak bola, kedua orangtuanya kemudian mendorongnya mengikuti program pengembangan sepak bola nasional di daerah tempat tinggalnya ketika berusia 10 hingga 12 tahun.

Kesempatan besar datang ketika Pavithran berusia 13 tahun. Ia diterima di akademi Johor Darul Ta'zim FC setelah tampil mengesankan dalam proses seleksi.

Keputusan tersebut membuat Pavithran harus meninggalkan rumah sejak usia muda demi mengejar cita-citanya menjadi pesepak bola profesional. Kini, impian tersebut perlahan terwujud setelah ia mendapatkan tempat di skuad Harimau Malaya.

Pavithran juga tidak melupakan pengorbanan keluarganya yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.

"Kami bukan keluarga yang berada ketika saya tumbuh besar. Kami cukup kesulitan. Ayah saya seorang sopir truk, sedangkan ibu saya adalah ibu rumah tangga yang mengurus lima anak. Ketika ayah sedang bekerja, ibu akan menjemput saya dari sekolah dengan sepeda motor dan langsung membawa saya ke tempat latihan. Hujan ataupun panas, dia selalu mengantar saya. Saya benar-benar berterima kasih kepada mereka," kata Pavithran.

Dukungan tersebut terus dirasakan Pavithran hingga kini. Selain kedua orangtuanya, saudara dan anggota keluarga lainnya juga memberikan dorongan dalam setiap tahap perjalanan kariernya.

" Keluarga saya, ibu, ayah, saudara-saudara, dan bibi-bibi saya, mereka selalu mendukung saya. Saya juga ingin berterima kasih kepada semua pelatih yang telah membimbing saya sepanjang perjalanan ini. Saya bangga mengenakan jersey Harimau Malaya. Saya berharap keluarga saya bangga dengan apa yang telah saya capai," ujarnya.

Pavithran sebelumnya sudah masuk dalam skuad Malaysia pada edisi 2024, tetapi ketika itu ia lebih banyak berperan sebagai pemain pengganti. Berbeda dengan turnamen kali ini, ia dipercaya menjadi starter dalam seluruh empat pertandingan Malaysia.

Perkembangannya juga tidak lepas dari pengalamannya bergabung dengan Johor Darul Ta'zim. Saat pertama kali pindah ke Johor, Pavithran mengaku belum menjadi penggemar sepak bola yang benar-benar fanatik.

Namun, situasi berubah setelah ia menyaksikan pertandingan JDT secara langsung di stadion. Dari sana, ia mulai mengagumi Safawi Rasid, pemain sayap berkaki kiri yang kemudian menjadi salah satu inspirasinya.

"Sebelum bergabung dengan JDT, saya bukan penggemar sepak bola yang fanatik. Saya menyukai permainan ini, tetapi tidak terus-menerus menontonnya. Namun, setelah pindah ke Johor dan melihat JDT bermain di stadion mereka, saya mengagumi Safawi Rasid. Kami sama-sama berkaki kiri dan bermain sebagai pemain sayap. Saya senang melihat gaya bermain dan tembakannya. Dia jelas merupakan inspirasi saya," kata Pavithran.

Kini, Pavithran menghadapi ujian terbesar dalam turnamen bersama Malaysia. Vietnam memiliki catatan pertemuan yang lebih baik dalam ajang tersebut. Dari enam pertemuan terakhir kedua negara, Vietnam memenangkan lima pertandingan, sedangkan satu laga lainnya berakhir imbang.

Vietnam juga pernah mengalahkan Malaysia pada final 2018. Ketika itu, Vietnam menang dengan agregat 3-2 dalam dua pertandingan.

Ancaman Vietnam semakin besar jika melihat produktivitas mereka pada fase grup. Golden Star Warriors mencetak 13 gol, terbanyak dibandingkan seluruh peserta pada fase tersebut.

Karena itu, Pavithran menyadari Malaysia tidak boleh tampil gentar. Ia berharap kecepatan dan kemampuan dribelnya dapat menjadi salah satu senjata untuk memberikan tekanan kepada pertahanan Vietnam.

Kepercayaan diri menjadi pesan utama yang terus diberikan pelatih interim Malaysia, Tan Cheng Hoe, kepada Pavithran.

" Kata yang paling sering dia gunakan adalah 'percaya diri'. Dia selalu mengatakan kepada saya, 'Jika kamu percaya diri dengan bola, kamu akan menemukan permainanmu.' Ketika saya percaya diri, saya bisa menggiring bola dan bermain sesuai potensi sebenarnya. Saya tidak mengkhawatirkan pemain lain; saya hanya fokus pada kekuatan saya, dan itu membuat permainan saya jauh lebih lancar," ujar Pavithran.

Malaysia kini berharap dukungan publik tuan rumah dapat memberikan energi tambahan untuk menghadapi juara bertahan tersebut. Leg pertama semifinal akan menjadi kesempatan bagi Harimau Malaya untuk mendapatkan modal sebelum menjalani laga penentuan di Hanoi.

Di semifinal lainnya, Singapura akan menjamu Thailand pada leg pertama di Jalan Besar Stadium, Sabtu. Hasil dua pertandingan semifinal tersebut akan menentukan dua tim yang berhak tampil di partai final ASEAN Hyundai Cup 2026.

Bagi Pavithran, pertandingan melawan Vietnam bukan sekadar kesempatan untuk membuktikan kemampuan individu. Laga tersebut menjadi ujian bagi Malaysia untuk menunjukkan bahwa mereka layak kembali bersaing di level tertinggi sepak bola Asia Tenggara setelah absen dari fase gugur pada edisi sebelumnya.

Dengan usia yang masih 21 tahun, Pavithran menjadi salah satu wajah baru yang diharapkan mampu membawa Malaysia melangkah lebih jauh. Ia pun tahu bahwa untuk mewujudkan target tersebut, tidak cukup hanya mengandalkan talenta.

Melawan Vietnam, ia dan rekan-rekannya dituntut tampil disiplin, berani, dan bekerja keras sepanjang pertandingan. Seperti yang diyakininya, Malaysia harus memberikan lebih dari sekadar 100 persen jika ingin menghentikan langkah sang juara bertahan menuju final.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.