Pasar Mulai Tenang, Harga Minyak Stabil Setelah AS Siapkan Asuransi dan Pengawalan Tanker di Teluk Persia
VISI.NEWS | BANDUNG - Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan yang relatif stabil pada perdagangan Rabu setelah pemerintah Amerika Serikat memastikan langkah perlindungan bagi kapal tanker yang melintasi kawasan Teluk Persia di tengah memanasnya konflik dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menegaskan bahwa pemerintah akan segera mengumumkan serangkaian kebijakan tambahan guna menjaga kelancaran distribusi minyak global.
Dalam wawancaranya bersama CNBC pada program Squawk Box, Bessent mengatakan, “Kami akan membuat serangkaian pengumuman dalam waktu dekat. Kemarin kami sudah memulai dengan pengumuman bahwa DFC akan menyediakan asuransi bagi kapal pengangkut minyak mentah maupun kapal kargo yang beroperasi di sekitar Teluk.”
Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar yang sebelumnya terpukul oleh lonjakan ketegangan geopolitik. Pada perdagangan terakhir, harga minyak mentah AS tercatat naik tipis 10 sen atau sekitar 0,13 persen menjadi USD 74,66 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global justru turun 3 sen ke level USD 81,37 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam setelah AS dan Israel melancarkan gelombang serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Iran yang merupakan anggota OPEC kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Timur Tengah, termasuk infrastruktur energi. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak mentah AS WTI mendekati USD 78 per barel, bahkan sempat melonjak 6 persen pada Senin dan 5 persen pada Selasa akibat kekhawatiran gangguan pasokan global.
Presiden AS, Donald Trump, pada Selasa menyatakan pemerintah siap memberikan perlindungan langsung terhadap kapal tanker minyak. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menyediakan asuransi melalui International Development Finance Corporation (DFC) serta membuka opsi pengawalan militer laut bagi kapal yang melintasi perairan rawan jika dibutuhkan.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada keamanan jalur distribusi minyak, terutama di Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global dikirim setiap hari melalui jalur sempit tersebut. Laporan sempat menyebutkan sejumlah kapal tanker menunda pelayaran karena kekhawatiran menjadi sasaran serangan balasan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!