Para Difabel Mengeluh, Hotel Pakai Jasa Pijat Ibu-ibu Bukan Anggota Pertuni
Pengurus Pertuni Solo juga mengungkapkan masalah kesekretariatan, yang sejauh ini tidak memiliki kantor sekretariat yang dapat menampung berbagai kegiatan, seperti pembinaan, pelatihan rapat dan sebagainya. "Selama ini, kegiatan rutin pertemuan pengurus, pelatihan, rapat dan lain-lain, terpaksa dilaksanakan di rumah anggota secara bergantian. Bila memungkinkan, pengurus Pertuni minta disediakan ruang untuk kantor sekretariat,," pintanya kepada wali kota Solo.
Menanggapi permintaan tersebut, Gibran langsung menyanggupi dengan memberikan salah satu ruang di gedung Sekretariat Bersama di kawasan Kepatihan Solo. "Di gedung baru itu, kebetulan ada satu ruang yang batal digunakan salah satu organisasi. Pertuni bisa menggunakan ruang itu untuk sekretariat," tutur Gibran.
Salah seorang anggota Pertuni yang mengurus bidang kesenian, menyampaikan masalah fasilitas untuk menampung kegiatan kesenian tuna netra. Pemkot Solo diminta memfasilitasi, karena banyak anak-anak warga Pertuni yang kini kuliah di ISI Surakarta atau sekolah di SMK Negeri 8 kesulitan mendapatkan arena berkesenian.
"Para seniman tuna netra di Kota Solo pernah mewakili Provinsi Jawa Tengah di berbagai kompetisi. Kami menjalin kolaborasi dengan berbagai sanggar seni untuk tempat latihan. Hasilnya, mereka pernah mendapat 6 prestasi terbaik bidang karawitan dan campursari," ungkapnya.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!