Pakar Ungkap Perbedaan Batuk Flu dan Batuk Akibat Polusi
Ilustrasi./visi.news/ist.
VISI.NEWS - Batuk yang muncul saat kualitas udara memburuk tidak selalu menjadi tanda seseorang terserang flu. Paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan memicu batuk berkepanjangan dengan karakteristik yang berbeda dari batuk akibat influenza.
Tingginya kadar polutan di udara belakangan ini kerap dikaitkan dengan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mengeluhkan batuk yang tak kunjung mereda.
Dokter spesialis alergi dan imunologi, Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD, KAI, FINASIM, menjelaskan bahwa perbedaan batuk akibat flu dan iritasi polusi dapat dikenali dari gejala sistemik yang menyertainya.
Pada influenza, pasien umumnya mengalami demam dengan suhu tubuh lebih dari 37 hingga 38 derajat Celsius. Kondisi tersebut juga kerap disertai nyeri otot dan rasa lemas.
Sementara itu, paparan polusi udara tidak memicu respons demam pada tubuh, tetapi dapat menyebabkan peradangan lokal pada mukosa saluran pernapasan.
Perbedaan lainnya dapat dilihat dari karakteristik dahak. Pada infeksi virus flu, batuk umumnya bersifat kering atau menghasilkan sekresi bening.
Sebaliknya, batuk yang disertai dahak berwarna hijau dapat menunjukkan adanya respons tubuh berupa infiltrasi sel neutrofil dan enzim mieloperoksidase terhadap iritasi kronis atau infeksi sekunder.
"Kalau sudah lebih dari 10 hari, demam, pilek, dan batuk tidak kunjung membaik, itu pasti bukan influenza. Influenza memiliki masa inkubasi yang cepat dan biasanya membaik dalam kurun waktu tersebut. Jika dibiarkan tanpa penanganan tepat, kondisi akibat paparan polusi ini bisa memicu komplikasi yang jauh lebih berat," tegas dr Sukamto dalam keterangannya dikutip, Senin (7/9/2026).
Alasan Polusi Udara Bisa Memicu Batuk
Dr Neetu Jain, konsultan pulmonologi PSRI Hospital India, mengatakan polutan PM 2.5 dari polusi udara dapat memicu penyempitan saluran napas. Kondisi itu terjadi melalui aktivasi reseptor saraf tepi di bronkus sehingga menyebabkan batuk terus-menerus.
"Penelitan telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kondisi ini, terutama terkait partikel dengan diameter aerodinamis kurang dari 2,5 mikrometer, yang umum disebut sebagai PM 2,5, dengan masalah batuk," ujar Dr Neetu Jain kepada India Today.
Batuk sendiri merupakan respons alami tubuh terhadap iritasi pada tenggorokan atau saluran pernapasan. Ketika zat iritan memicu sensasi tersebut, saraf akan aktif dan mengirimkan sinyal ke otak.
Otak kemudian memberikan perintah kepada otot-otot di dada dan perut untuk mengembuskan udara dengan kuat. Mekanisme tersebut membantu tubuh mengeluarkan zat yang mengiritasi saluran pernapasan.
Batuk sesekali merupakan fungsi tubuh yang normal. Namun, batuk yang berlangsung lama atau disertai lendir yang berubah warna maupun darah dapat menjadi tanda adanya kondisi medis tertentu.
"Paparan gas tertentu seperti sulfur dioksida, ozon, dan nitrogen oksida, yang terdapat dalam udara tercemar, dikaitkan dengan peningkatan keluhan batuk dan sesak dada. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara polusi udara dan batuk," kata Dr. Jain.
Kapan Batuk Perlu Diperiksakan?
Karakteristik batuk dan gejala penyertanya perlu diperhatikan untuk menentukan langkah penanganan. Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila:
-
Batuk berlangsung lebih dari sepekan.
-
Batuk menghasilkan sekret berwarna keruh atau hijau.
-
Batuk disertai rasa berat saat menarik napas.
-
Batuk berlangsung lama atau disertai lendir berdarah.
Perbedaan penyebab batuk tersebut membuat penanganannya tidak dapat disamakan. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!