Optimisme Jurnalis di Asia Pasifik Redam Pengunduran Diri Besar-besaran
Meski banyak pelaku industri media di Asia Pasifik memilih untuk beralih ke video storytelling satu dekade lalu, 40% jurnalis memprediksi siniar akan semakin berkembang, yang akan membuka jalan bagi kebangkitan jurnalisme suara.
Hampir dua per tiga (66%) jurnalis juga merasa semakin berkembang dan beragamnya media sosial dan saluran digital lainnya, mempertegas kebutuhan akan jurnalisme yang berkualitas. Rasa ingin tahu mungkin saat ini dianggap sebagai keterampilan utama yang dibutuhkan jurnalis.
Namun, selama tiga hingga lima tahun ke depan, keterampilan dunia digital diprediksi akan beralih mendominasi sebagai keterampilan utama yang dibutuhkan jurnalis. Keterampilan ini mencakup kemampuan SEO (43%), analisis data (36%), dan kemampuan untuk berinteraksi dengan audiens (28%).
Namun, masih banyak pula jurnalis yang merasa khawatir akan dampak digitalisasi. Lebih dari seperempat jurnalis (26%) merasa disrupsi digital merupakan salah satu tantangan terbesar yang akan mereka hadapi di 2022, mengalahkan ancaman kehilangan pekerjaan (23%) dan perubahan iklim (16%).
Dalam hal interaksi, para jurnalis juga merasa pendekatan personal merupakan kunci keberhasilan untuk menarik perhatian mereka. Jurnalis juga lebih memilih untuk mempublikasikan berita yang eksklusif (84%) dan memilih jam 8 pagi hingga 11 siang sebagai waktu yang paling ideal untuk pengiriman materi pers (36%), diikuti dengan jam 11 siang dan 12 siang (23%).
Di Indonesia, penggunaan aplikasi pesan seperti WhatsApp dan LINE dianggap sebagai cara terbaik untuk berkomunikasi dengan jurnalis. Satu dari sepuluh jurnalis di Indonesia, juga terbuka untuk interaksi lewat media sosial. Sedangkan, telepon merupakan metode komunikasi yang paling tidak disukai jurnalis (hanya kurang dari 1 persen responden yang memilih).@nia
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!