Nono Sambas: Program Pertanian Bupati Bandung Baik Harus Lebih Ditingkatkan
Alat lainnya, kata dia, seperti untuk tandur, transplanter juga harus cocok dengan kondisi tanah atau kontur tanahnya. Sebab sering terjadi tidak cocok karena tanahnya berbukit atau terasering.
"Kemudian kondisi tanahnya rawa, sehingga tidak jalan. Kalaupun nanti ada petani yang membutuhkan alat tersebut, harus ditunjang dengan ketersediaan peralatan spare part. Jangan sampai petani mengalami kesulitan suku cadang tersebut," kata Nono.
Disamping itu, kata dia, harus diperhatikan juga ketika diberikan alat mesin pertanian, petani juga harus diberikan pelatihan.
"Ketika diberikan alat mesin pertanian harus diberikan pelatihan, sehingga petani lebih cakap. Disamping itu juga harus disediakan suku cadangnya. Jangan sampai susah mencari suku cadangnya. Misalnya, suku cadang transplanter, alat tanam padi susah didapat," katanya.
Akibatnya, lanjutnya, alat mesin pertanian itu mubajir karena tidak bisa digunakan oleh petani setelah suku cadangnya susah didapat.
Ia pun berharap dalam bidang pertanian itu tidak menjual padi di hulu. Misalnya, tanam padi dijual padi. Tanam cengkeh dijual cengkeh, tanam kopi jual kopi.
"Dijual di hulu harganya tidak seimbang dengan biaya garap. Tapi lebih baik dijual di hilir. Misalnya, kopi dijual serbuk kopinya atau dijual kopinya seperti di cafe. Beras dijual dengan cara dikemas. Pasar juga menentukan, apabila dijual tradisional, maka harganya akan biasa-biasa saja. Jadi harus ditingkatkan, dari mulai processing, pengemasan, dan juga pemasaran harus punya segmen pasar tertentu. Ada peningkatan harga kalau ada nilai lebih, seperti kualitas pengemasan," jelasnya.
Lebih lanjut Nono juga berbicara tentang pompanisasi. Ia mengucapkan terima kasih, ada bantuan itu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!