Minyakita di Palopo Kosong Dua Pekan, Bulog Sebut Kuota Turun

Desi Rossilawati
Jumat, 12 Juni 2026 | 12:44 WIB
Bagikan
Minyakita di Palopo Kosong Dua Pekan, Bulog Sebut Kuota Turun

Minyakita./visi.news/prabowosubianto.com.

VISI.NEWS | BANDUNG - Kelangkaan Minyakita mulai dirasakan masyarakat di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Dalam dua pekan terakhir, minyak goreng bersubsidi tersebut semakin sulit ditemukan di sejumlah kios dan lapak pedagang di kawasan Pusat Niaga Palopo (PNP). Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan barang di pasaran, tetapi juga memicu kenaikan harga sejumlah merek minyak goreng lainnya.

Fenomena kosongnya stok Minyakita di tingkat pedagang menjadi indikator adanya gangguan pada rantai pasokan. Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng yang stabil dan terjangkau, berkurangnya distribusi Minyakita berpotensi menambah tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini mengandalkan produk tersebut.

Salah seorang pedagang di PNP, Meli, mengaku sudah tidak menerima pasokan Minyakita selama dua minggu terakhir. Selama ini ia memperoleh stok dari pemasok yang berada di Kabupaten Pinrang dan Tana Toraja. Namun belakangan distribusi mengalami perubahan sehingga pasokan tidak lagi mengalir ke kiosnya.

"Sudah dua minggu kosong. Biasanya saya ambil dari Pinrang dan Toraja, tapi sekarang tidak ada lagi pasokan. Alasannya penjualan hanya melalui agen resmi," kata Meli dalam keterangannya dikutip, Jumat, (12/6/2026).

Menurut Meli, sebelum stok habis, Minyakita dijual dengan harga sekitar Rp18.000 per liter. Angka tersebut bahkan sudah berada di atas Harga Eceran Tertinggi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasokan telah lebih dulu memengaruhi harga sebelum produk benar benar menghilang dari sejumlah kios.

Dampak kelangkaan tidak hanya dirasakan pada Minyakita. Sejumlah merek minyak goreng komersial juga mengalami kenaikan harga. Minyak goreng merek Sunco dan Bimoli ukuran dua liter yang sebelumnya dijual Rp44.000 kini naik menjadi Rp50.000 per kemasan. Sementara minyak goreng merek Masku yang sebelumnya berada di kisaran Rp42.000 kini mencapai Rp47.000 untuk ukuran yang sama.

Dari sisi distribusi, Perum Bulog Cabang Palopo mengonfirmasi adanya penurunan kuota pasokan yang diterima dari produsen. Pimpinan Perum Bulog Cabang Palopo, Maysius L, menjelaskan bahwa kuota Minyakita yang sebelumnya mencapai 60.300 liter per bulan kini berkurang hampir setengahnya menjadi 30.600 liter per bulan.

"Pasokan dari TSL selaku produsen memang berkurang untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dampaknya, kuota yang diterima Bulog Cabang Palopo juga turun dari 60.300 liter menjadi 30.600 liter per bulan," ucap Maysius.

Penurunan kuota tersebut menjadi tantangan tersendiri karena wilayah layanan Bulog Cabang Palopo mencakup area yang cukup luas. Distribusi tidak hanya melayani Kota Palopo, tetapi juga Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Dengan cakupan wilayah tersebut, pasokan yang berkurang membuat kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi semakin terbatas.

Dalam situasi seperti ini, Bulog memilih memprioritaskan distribusi ke pasar pasar Sistem Pangan dan Sembako Pemerintah serta pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

"Kami fokus menyalurkan langsung ke pasar SP2KP dan pasar tradisional agar masyarakat tetap bisa mendapatkan Minyakita sesuai harga yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.

Maysius juga menegaskan bahwa distribusi Minyakita di lapangan tidak sepenuhnya dilakukan oleh Bulog. Sebagian besar pasokan justru berasal dari distributor dan pelaku usaha swasta. Menurutnya, sekitar 40 hingga 60 persen Minyakita yang beredar di pasaran berasal dari jalur distribusi swasta sehingga harga jual yang ditemukan di lapangan dapat berbeda beda.

"Dari hasil monitoring, kami menemukan ada harga yang berbeda antara Minyakita yang disuplai Bulog dan yang berasal dari pihak swasta. Mereka mengaku ada tambahan biaya seperti ongkos angkut dan biaya operasional lainnya," tuturnya.

Dalam konteks pengendalian inflasi pangan, berkurangnya pasokan Minyakita menjadi perhatian karena minyak goreng merupakan salah satu komoditas penting dalam konsumsi rumah tangga. Ketika pasokan menyusut, masyarakat berpotensi beralih ke produk lain yang harganya lebih mahal sehingga meningkatkan beban pengeluaran sehari hari.

Meski demikian, Bulog bersama Satgas Pangan terus melakukan pemantauan dan pengawasan di pasar untuk memastikan harga tetap terkendali. Menurut Maysius, akar persoalan saat ini berada pada sisi produksi yang mengalami penurunan sehingga berdampak langsung pada kuota distribusi ke daerah.

"Kendala utamanya memang karena suplai dari produsen berkurang. Itu yang menyebabkan kuota yang diterima Bulog ikut turun dan berdampak pada distribusi di daerah," terangnya.

Dengan pasokan yang masih terbatas dan permintaan yang tetap tinggi, ketersediaan Minyakita di Palopo dan wilayah sekitarnya akan sangat bergantung pada pemulihan distribusi dari produsen dalam waktu dekat.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.