Minyakita di Palopo Kosong Dua Pekan, Bulog Sebut Kuota Turun

Desi Rossilawati
Jumat, 12 Juni 2026 | 12:44 WIB
Bagikan
Minyakita di Palopo Kosong Dua Pekan, Bulog Sebut Kuota Turun

Minyakita./visi.news/prabowosubianto.com.

Dari sisi distribusi, Perum Bulog Cabang Palopo mengonfirmasi adanya penurunan kuota pasokan yang diterima dari produsen. Pimpinan Perum Bulog Cabang Palopo, Maysius L, menjelaskan bahwa kuota Minyakita yang sebelumnya mencapai 60.300 liter per bulan kini berkurang hampir setengahnya menjadi 30.600 liter per bulan.

"Pasokan dari TSL selaku produsen memang berkurang untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dampaknya, kuota yang diterima Bulog Cabang Palopo juga turun dari 60.300 liter menjadi 30.600 liter per bulan," ucap Maysius.

Penurunan kuota tersebut menjadi tantangan tersendiri karena wilayah layanan Bulog Cabang Palopo mencakup area yang cukup luas. Distribusi tidak hanya melayani Kota Palopo, tetapi juga Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Dengan cakupan wilayah tersebut, pasokan yang berkurang membuat kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi semakin terbatas.

Dalam situasi seperti ini, Bulog memilih memprioritaskan distribusi ke pasar pasar Sistem Pangan dan Sembako Pemerintah serta pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

"Kami fokus menyalurkan langsung ke pasar SP2KP dan pasar tradisional agar masyarakat tetap bisa mendapatkan Minyakita sesuai harga yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.

Maysius juga menegaskan bahwa distribusi Minyakita di lapangan tidak sepenuhnya dilakukan oleh Bulog. Sebagian besar pasokan justru berasal dari distributor dan pelaku usaha swasta. Menurutnya, sekitar 40 hingga 60 persen Minyakita yang beredar di pasaran berasal dari jalur distribusi swasta sehingga harga jual yang ditemukan di lapangan dapat berbeda beda.

"Dari hasil monitoring, kami menemukan ada harga yang berbeda antara Minyakita yang disuplai Bulog dan yang berasal dari pihak swasta. Mereka mengaku ada tambahan biaya seperti ongkos angkut dan biaya operasional lainnya," tuturnya.

Dalam konteks pengendalian inflasi pangan, berkurangnya pasokan Minyakita menjadi perhatian karena minyak goreng merupakan salah satu komoditas penting dalam konsumsi rumah tangga. Ketika pasokan menyusut, masyarakat berpotensi beralih ke produk lain yang harganya lebih mahal sehingga meningkatkan beban pengeluaran sehari hari.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.