Mimpi Bandung Jadi Kota Ramah Pesepeda

ED
PN
Minggu, 6 September 2026 | 05:51 WIB
Bagikan
Mimpi Bandung Jadi Kota Ramah Pesepeda

“Rencananya sebulan sekali. Akhirnya ada sosialisasi untuk perawatan sepeda, keselamatan, dan lain-lain. Di hari Sabtu sebulan sekali,” katanya.

Jika konsisten dilakukan, kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar. Bersepeda tidak lagi sekadar aktivitas olahraga atau rekreasi, tetapi perlahan menjadi pilihan mobilitas masyarakat.

Disabilitas sebagai Tolok Ukur

Ada satu kelompok yang menjadi perhatian penting dalam gagasan pembangunan jalan yang inklusif: penyandang disabilitas.

Ketika sebuah jalan, trotoar, atau fasilitas publik mampu digunakan dengan aman dan mandiri oleh penyandang disabilitas, fasilitas tersebut pada dasarnya sedang dirancang agar lebih mudah diakses oleh semua orang.

Karena itu, menjadikan kebutuhan disabilitas sebagai standar tertinggi bukan hanya soal memberikan fasilitas khusus. Lebih jauh, hal itu berarti mengubah cara pandang terhadap pembangunan kota.

Trotoar tidak cukup hanya tersedia. Ia harus dapat dilalui tanpa terhalang. Jalur penyeberangan harus aman. Akses menuju fasilitas publik harus mudah. Dan ruang bagi pengguna jalan tidak boleh berubah fungsi sehingga menghilangkan hak kelompok lainnya.

Kota yang inklusif pada akhirnya adalah kota yang memperhitungkan keberagaman penggunanya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.