Microsoft Digital Defense Report 2024: Ancaman Siber Semakin Canggih, AI Jadi Kunci Keamanan di Masa Depan
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 9 November 2024 | 04:30 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA - Microsoft baru saja merilis laporan tahunan Digital Defense Report 2024, yang memberikan gambaran terbaru mengenai perkembangan lanskap keamanan siber global. Laporan ini menyajikan berbagai temuan mengenai karakteristik ancaman dan serangan siber yang terus berkembang di berbagai negara, dengan sorotan utama pada serangan ransomware, fraud, serta serangan identitas dan social engineering.
Dalam laporan tersebut, Microsoft juga menekankan pentingnya penerapan praktik keamanan siber yang lebih baik, termasuk penggunaan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat pertahanan siber di era digital yang semakin maju.
Ancaman Siber yang Makin Canggih
1. Ransomware
Ransomware terus menjadi ancaman terbesar dalam dunia keamanan siber. Jenis malware ini mengunci akses ke data atau sistem penting milik korban dan meminta tebusan agar akses tersebut dibuka kembali. Microsoft mencatat bahwa serangan ransomware yang melibatkan perangkat tak terkelola (unmanaged devices) semakin meningkat. Para penyerang memanfaatkan celah di perangkat yang tidak diawasi ini untuk masuk ke jaringan organisasi.
Untuk mengurangi risiko serangan ransomware, organisasi disarankan untuk mengelola perangkat yang digunakan oleh karyawan dengan lebih ketat dan menonaktifkan akses perangkat tak terkelola ke jaringan perusahaan.
2. Phishing
Serangan phishing, yang biasanya dilakukan melalui email, kini semakin canggih. Pelaku kejahatan siber mulai menggunakan kode QR sebagai alat untuk menipu korban. Ketika korban memindai kode QR yang tertanam dalam pesan phishing, mereka akan diarahkan ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri data pribadi mereka. Microsoft menyarankan agar pengguna memverifikasi elemen-elemen kode QR yang mencurigakan, serta menggunakan aplikasi pemindai QR yang terpercaya.
3. Serangan Identitas dan Social Engineering
Serangan terhadap identitas, termasuk pencurian kata sandi, menjadi masalah yang terus berkembang. Data Microsoft menunjukkan bahwa lebih dari 600 juta serangan terhadap identitas terjadi setiap hari, dan 99 persen di antaranya bertarget pada kata sandi pengguna. Untuk mengatasi masalah ini, Microsoft mendorong penggunaan metode otentikasi tanpa kata sandi, seperti passkeys, yang lebih aman dan tidak rentan terhadap serangan.
Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Keamanan Siber
Dalam konteks transformasi digital yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan, Microsoft menyoroti bagaimana AI dapat membantu dalam memperkuat pertahanan siber. AI kini digunakan untuk meningkatkan deteksi ancaman dan menangani insiden dengan lebih efisien. Sebagai contoh, AI dapat membantu mempersingkat waktu untuk mengidentifikasi dan menangani pelanggaran, yang sebelumnya rata-rata memakan waktu hingga 277 hari tanpa teknologi AI.
Beberapa area utama penggunaan AI dalam keamanan siber antara lain:
1. Menyortir Permintaan dan Tiket
AI dapat membantu tim respons internal untuk memutuskan cara terbaik dalam menangani permintaan dan tiket berdasarkan skenario yang pernah terjadi sebelumnya, menghemat waktu sekitar **20 jam per orang per minggu.
2. Memperkuat Penilaian Risiko
AI digunakan untuk memperkaya penilaian risiko dengan menggabungkan pengetahuan organisasi yang tidak terstruktur dan data historis.
3. Pembelajaran dari Pengalaman Sebelumnya
AI juga dapat mengelola data insiden dan pelanggaran yang terjadi sebelumnya untuk mengidentifikasi pola atau pembelajaran yang dapat membantu organisasi memperbaiki respons di masa depan. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!