Menyusuri Jejak Majapahit di Kolam Segaran
VISI.NEWS | MOJOKERTO – Perjalanan Tim Gowes VISI.NEWS menjelajahi kawasan bersejarah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, membawa rombongan ke salah satu peninggalan terbesar Kerajaan Majapahit, yakni Kolam Segaran. Situs yang berada di Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan ini menyimpan jejak kejayaan peradaban Nusantara yang hingga kini masih mengundang kekaguman.
Dari kejauhan, Kolam Segaran tampak seperti danau buatan raksasa. Berdasarkan informasi yang tertera di lokasi, kolam ini memiliki panjang 375 meter dan lebar 125 meter, dengan dinding bata merah setinggi 3,16 meter serta ketebalan mencapai 1,6 meter. Bentuknya yang persegi panjang membuat siapa pun yang melihatnya dapat membayangkan betapa majunya teknologi konstruksi pada masa Majapahit.
Nama “Segaran” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti laut. Sebutan tersebut diberikan karena luasnya kolam yang menyerupai hamparan lautan. Selain berfungsi sebagai tempat penampungan air, Kolam Segaran juga diyakini memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan konsep Samudramantana atau pengadukan lautan susu, sebuah ajaran yang dikenal dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat Majapahit.
Di sisi barat kolam terdapat tangga yang mengarah ke dasar kolam. Sementara di sekitar kawasan ini juga terdapat kolam alami yang dikenal dengan nama Balong. Situs bersejarah tersebut ditemukan kembali oleh arsitek dan arkeolog Belanda, Ir. Henry Maclaine Pont, pada tahun 1926. Saat ditemukan, kondisinya tertimbun tanah dan lumpur sebelum akhirnya dilakukan ekskavasi oleh Dinas Purbakala Pemerintah Hindia Belanda.
Pemugaran kemudian dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur pada periode 1975/1976 dan 1982/1983 untuk menjaga kelestarian salah satu peninggalan terpenting dari era Majapahit tersebut.
Salah seorang anggota Tim Gowes VISI.NEWS, Edi Sudjono, mengaku takjub melihat kualitas konstruksi bata merah yang digunakan pada bangunan berusia ratusan tahun itu.
“Yang paling mengherankan saya adalah bata merahnya. Meski berada di lingkungan yang lembab dan sudah berusia ratusan tahun, kondisinya masih sangat kokoh dan tidak lapuk seperti yang kita bayangkan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit memiliki teknologi pembuatan material bangunan yang luar biasa,” ujar Edi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!