Menyusuri Jejak Kediri, dari Lirboyo hingga Simpang Lima Gumul
- Memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, Tim Gowes VISI.NEWS yang terdiri atas Aep S. Abdullah, Edi Sudjono, dan Untung Sumarsono memulai perjalanan napak tilas sejarah dengan tema "Gowes Sejarah". Kegiatan yang berlangsung selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 Muharram 1448 H ini menjadi upaya menelusuri jejak-jejak peradaban Islam dan sejarah bangsa di Kota Solo Jawa Tengah dan beberapa kota di Jawa Timur.
VISI.NEWS | KEDIRI – Setelah menempuh perjalanan panjang melintasi jalur Jawa Timur, Tim Gowes VISI.NEWS akhirnya memasuki Kota Kediri, kota yang selama ini dikenal sebagai “Kota Tahu” sekaligus salah satu pusat industri dan peradaban penting di kawasan timur Pulau Jawa. Namun bagi para pesepeda, Kediri bukan sekadar kota perdagangan dan kuliner. Kota ini menyimpan lapisan sejarah panjang yang membentang dari era Kerajaan Kadiri, Majapahit, penyebaran Islam, hingga perkembangan masyarakat modern.
Perjalanan menyusuri Kediri menjadi pengalaman yang berbeda. Di setiap sudut kota, sejarah seolah hadir dalam bentuk bangunan kuno, situs purbakala, hingga pesantren yang masih hidup dan berkembang hingga kini.
Mengawali Jejak dari Ponpes Lirboyo
Destinasi pertama yang dikunjungi Tim Gowes VISI.NEWS adalah Pondok Pesantren Lirboyo di kawasan Mojoroto. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1910 ini merupakan salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Didirikan oleh KH Abdul Karim, Lirboyo tumbuh dari sebuah surau sederhana hingga menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan ribuan ulama dan tokoh masyarakat.
Memasuki kawasan pesantren, suasana religius begitu terasa. Aktivitas santri yang berlangsung hampir 24 jam menghadirkan gambaran nyata bagaimana tradisi pendidikan Islam klasik masih terjaga di tengah modernisasi. Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, Lirboyo bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan bagian penting dari sejarah sosial dan keagamaan Kediri.
Museum Airlangga, Menyimpan Warisan Kediri
Dari Lirboyo, perjalanan berlanjut menuju Museum Airlangga. Museum yang berada di kawasan Kota Kediri ini menyimpan berbagai koleksi arkeologi dari masa Kerajaan Kadiri, Singhasari, hingga Majapahit.
Di dalam museum tersimpan arca-arca kuno, prasasti, serta berbagai benda bersejarah yang menjadi saksi kejayaan peradaban masa lampau. Koleksi tersebut memperlihatkan bahwa Kediri pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan terbesar di Nusantara.
Bagi anggota tim, museum ini menjadi ruang refleksi tentang betapa panjangnya perjalanan sejarah yang pernah dilalui wilayah Kediri.
Singgah di Masjid Agung Kediri
Perjalanan berikutnya membawa rombongan menuju Masjid Agung Kediri yang berdiri sejak tahun 1771. Bangunan masjid yang menjadi ikon kota ini memadukan unsur arsitektur Jawa dan Islam.
Di halaman masjid yang luas, suasana teduh dan damai terasa begitu kuat. Letaknya yang berdekatan dengan pusat kota menjadikan masjid ini sebagai titik pertemuan antara kehidupan religius dan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, Masjid Agung Kediri menunjukkan bagaimana warisan keislaman tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota.
Menelusuri Masjid Kuno Al-Alawi
Perjalanan sejarah Islam Kediri berlanjut ke Masjid Al-Alawi di Banjarmlati. Masjid kuno yang diyakini berdiri sejak abad ke-17 ini menjadi salah satu peninggalan penting penyebaran Islam di wilayah Kediri. Bangunan tua dengan tiang-tiang kayu jati dan arsitektur tradisionalnya masih terawat hingga sekarang.
Masjid ini juga menjadi bagian dari kompleks pesantren tua Al-Alawi yang dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Kediri. Kehadirannya membuktikan bahwa perkembangan Islam di wilayah ini telah berlangsung selama ratusan tahun.
Menikmati Wajah Kota di Alun-alun dan Hutan Joyoboyo
Usai menyusuri situs-situs religius, Tim Gowes VISI.NEWS menikmati suasana kota di Alun-alun Kediri. Ruang publik yang menjadi pusat aktivitas warga ini tampak hidup sejak pagi hingga malam.
Tak jauh dari pusat kota, rombongan kemudian menuju Hutan Joyoboyo. Kawasan hijau yang menjadi paru-paru kota tersebut menawarkan suasana sejuk dan nyaman. Nama Joyoboyo sendiri mengingatkan masyarakat pada Raja Jayabaya, penguasa Kerajaan Kadiri yang terkenal dengan ramalan-ramalannya.
Di tengah rimbunnya pepohonan, para pesepeda memanfaatkan kesempatan untuk beristirahat sambil menikmati udara segar.
Simpang Lima Gumul, Ikon Modern Kediri
Perjalanan berikutnya mengarah ke Simpang Lima Gumul, ikon modern Kabupaten Kediri yang kerap disebut sebagai "Arc de Triomphe"-nya Indonesia.
Monumen megah yang berdiri di tengah pertemuan lima jalan utama ini menjadi salah satu landmark paling terkenal di Kediri. Bangunan tersebut menjadi simbol perkembangan daerah sekaligus destinasi favorit wisatawan.
Di lokasi ini, Tim Gowes VISI.NEWS mengabadikan perjalanan dengan latar arsitektur monumental yang mencerminkan wajah Kediri masa kini.
Menyusuri Warisan Majapahit
Petualangan sejarah belum berakhir. Tim Gowes VISI.NEWS melanjutkan perjalanan menuju Candi Surowono dan Candi Tegowangi yang merupakan peninggalan era Majapahit abad ke-14.
Relief-relief yang menghiasi dinding candi masih memperlihatkan kehalusan seni pahat masa lampau. Setiap ukiran seolah bercerita tentang kehidupan, kepercayaan, dan kebesaran kerajaan yang pernah menguasai Nusantara.
Dari sana, rombongan bergerak menuju Situs Adan-Adan yang diyakini memiliki keterkaitan dengan masa awal Kerajaan Kadiri. Situs ini terus menjadi objek penelitian para arkeolog karena menyimpan banyak petunjuk mengenai sejarah peradaban Kediri kuno.
Perjalanan sejarah kemudian ditutup dengan kunjungan ke Candi Gempur, peninggalan era Kerajaan Kadiri sekitar abad ke-10. Meski tidak sebesar candi-candi terkenal lainnya, situs ini menjadi bukti penting keberadaan peradaban Hindu-Buddha di kawasan Kediri.
Harmoni Budaya di Klenteng Tjoe Hwie Kiong
Sore hari, Tim Gowes VISI.NEWS mengunjungi Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berdiri sejak tahun 1817. Klenteng ini merupakan salah satu bangunan bersejarah masyarakat Tionghoa di Kediri.
Arsitektur khas dengan dominasi warna merah dan ornamen naga menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan destinasi sebelumnya. Kehadiran klenteng ini menunjukkan bahwa Kediri tumbuh sebagai kota yang dihuni berbagai komunitas dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam.
Perjalanan sehari menyusuri Kediri memberikan kesan mendalam bagi Tim Gowes VISI.NEWS. Dari pesantren legendaris, masjid kuno, museum, candi-candi peninggalan kerajaan, hingga monumen modern, semuanya membentuk mozaik sejarah yang utuh.
Kediri bukan hanya dikenal karena tahu kuningnya yang melegenda atau geliat industrinya yang terus berkembang. Lebih dari itu, kota ini adalah ruang besar tempat sejarah, budaya, agama, dan modernitas hidup berdampingan.
Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap batu bata, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!